Puisi Pantun Musim Rontok Karya Ajip Rosidi
Di musim rontok daun berubah warna Menjadi kuning, merah, lalu berguguran; Dalam hidup tak terasa usia menjadi tua Sedan…
Di musim rontok daun berubah warna Menjadi kuning, merah, lalu berguguran; Dalam hidup tak terasa usia menjadi tua Sedan…
kepada pat kemungkinan-kemungkinan yang luruh potongan-potongan harapan dan cinta yang menyeluruh bisakah direntakkan?…
Kematian (1) Lelaki bernyanyi sepenuh hati didorongnya beton ke puncak tinggi di hari sebelum lebaran di rumah anak me…
Persinggahan (1) Kalau sudah jadi yakin akan kehadiran orang lain kalau sudah jadi ketetapan ia pacu diri di lembah pe…
Yang paling indah adalah kenangan Yang paling mengesankan adalah kenangan Yang paling menikam adalah kenangan Yang palin…
Hujan gerimis sepanjang hari Angin bertiup dari Tenggara; Hati menangis tersedan tak henti Karena hidup sebatang kara. …
Rasia malam = yang lalu + akan datang Kedatangan sahabat/musuh lari bertaburan Pemimpin (apa pernah dia berkata) tak puny…
Suatu kota dalam bayangan bulan, cintaku Nyanyian masa kanak yang telah jauh Iringan suling mengombaki sepi abadi Meraya…
Terang bulan terang di kali Buaya timbul disangka mati; Hidup di dunia hanya sekali Maka janjimu tetap kunanti. Terang…
Sajak buat Tuhan (1) Kalau aku bicara pada-Mu, Tuhan Bukan mau mengadukan dera dan derita Tak kuharap Kau berdiri di de…
Mesti kutinggalkan hidup tenang Mesti pergi ke kehidupan gelombang Dan mengerti riak tersenyum pedih Ia bangunkan warna …
Tanjung Katung airnya biru Kalau boleh menumpang mandi; Hidup selalu memendam rindu Bertemu denganmu meski sekali. Tan…
Tiada nyanyi seduka Jakarta menempel pada bibir kering menggigil oleh malaria menyumpahi hari pengap-pesing. Semua tel…
Dari hulu hingga ke muara, berapa kali ganti nama? Air yang mengalir sama juga, hanya saja bertukar warna. - Ajip Rosidi …
Dari diammu aku hendak belajar jadi bijaksana Gunung yang menyaksikan segala peristiwa tidak beranjak karena ada bencana…
Dengan jaket hitam dan topi merah dari wolita ia berjalan menyelinap sambil makan buah ceri di Pasar Vittoria, Roma, b…
Seorang anak memungut ranting kering girang melambai-lambai lalu melemparkannya ke sungai. (Sungai Sarawak, keheningan …
Penyair. Kaulah prajurit terakhir Yang meski dengan pena patah, mesti menegakkan Kebenaran Karena dunia Tak boleh kaubia…
Membungkuklah langit: rintik menangisi Anak yang tiada rumah kan pulang Berdiri tegap di railing jembatan Men-tertawa-ka…
Ketika keduanya berpapasan, tak sepatah pun kata teguran Hanya dua pasang mata yang tajam bersitatapan Suhrawardi atas k…