Puisi Kasidah Sunyi Karya Acep Zamzam Noor
Kasidah Sunyi (1) Kepada sunyi Jagalah napasku Agar tidak berbunyi Peliharalah tubuhku Agar tidak ikut pergi Lempa…
Kasidah Sunyi (1) Kepada sunyi Jagalah napasku Agar tidak berbunyi Peliharalah tubuhku Agar tidak ikut pergi Lempa…
Ada yang dingin diucapkan angin Mungkin dingin. Seperti ada yang ingin diucapkan Mungkin kegelisahan. Musik yang gemetar …
"Ada sebuah gambar Yang Mulia Dalai Lama di kamarku Dia selalu tersenyum dan berkacamata sepertimu," suara itu …
Kita pun kelu mengeja rindu Berkaca di kolam jiwa Tercipta lagu dari kediaman yang bisu Sepi yang menikam kalbu Maka l…
Pergantian siang dan malam Pertukaran musim demi musim Seperti sebuah cermin besar Yang menelanjangiku. Aku hanya berges…
Angin menyapu rambutmu Dari arah laut jingga Surya melenggang Melewati rembang petang Benang-benang halusnya Menembus…
Attar telah bernyanyi tentang burung Yang terbang dari dahan-dahan jiwa Sana’i telah menanam dan memetik mawar abadi Tel…
Angin yang menyisir hari Meluruhkan bunga-bunga Di taman itu, bianglala Membelah matahari Semburat darahnya Tumpah. M…
Corto Viaggio Sentimentale (1) Kita minum dari gelas yang sama Dan tertawa bersama-sama. Lantai dingin Tumpukan daun-da…
Kekasih, pandangi aku yang nanar Bersimpuh dalam tatapanmu Setelah letih memanggul kopor nasib Menyeret-nyeret usia Mer…
Dari ujung rambut burung-burung berjatuhan Ke dalam lukisan. Tapi di teduh wajah kecantikan utuh Begitu sempurna sapuan h…
Lewat pasar yang riuh Lewat deretan panjang kaki lima Lewat tangga yang disandarkan Ke bukit. Aku merasa tak akan sampai…
Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai rambutmu Di lantai keramik yang licin. Aku selalu terkenang kepadamu Setiap…
Dua Nada (1) Mungkin telah ribuan senja Kulewati dalam hidupku Namun ada satu senja yang membuatku Begitu tersiksa. Se…
Pada suatu sore bulan Desember Aku berdiri di tangga gereja Ketika lonceng mengumandangkan sunyi Dan serombongan burung …
Siapakah yang melangkah Meninggalkan jejak gerimis? Lengkung langit Sejak semula hanya betah jadi saksi Yang bisu. Dan a…
Udara yang terbakar Tercium dari celah batu-batu besar. Ada cahaya Garam-garam kabut Dan sebuah gema Yang ditembakkan …
Pada gamelan jiwa Bermain lagu Getar asmarandana Alangkah sendu Pada gamelan jiwa Mengalun kelu Sunyi semesta Dalam…
Lagu mengalun Menjengkal belantara Sukma. Kekasih Kukayuh rindu dalam pejam Kepadamu Sebuah lagu mengalun Menyapu pa…
Bahkan kesedihan pun dewasa Di matamu. Ia tahu makna dunia yang fana Dan paham tentang asinnya airmata Ketika langit me…