Puisi Pohon Perempuan Karya Joko Pinurbo

Pohon perempuan itu masih berdiri anggun di tengah kota
walau sudah sangat tua umurnya.
Teman-temannya sudah tumbang dan roboh semua
tapi ia masih tegar di sana.

Aku ingin mencicipi sepasang buahnya yang indah
yang selalu tampak segar dan basah.
Tapi kata orang itu buah keramat
dan tak seorang pun boleh memetiknya.

Pohon keramat itu selalu ramai dikunjungi peziarah
yang datang untuk memohon berkah dan tuah.
Dan kata orang, hanya yang kudus dan bersih hidupnya
boleh ke sana. Sedang aku seorang pendosa
yang ketika lahir saja sudah tega menyiksa
dan melukai seorang wanita.

Tadi siang aku melihat
seorang tiran ditangkap,
ditelanjangi, diarak keliling kota
kemudian digantung di pohon itu
sampai melet lidahnya
dan mendelik matanya.
Sebelum nyawanya oncat
ia sempat mendengar
pohon perempuan itu berkata:
"Minumlah tetekku, hai anak durhaka."

(1999)

Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Traktir


Anda suka dengan karya-karya di web Narakata? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan web Narakata ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol traktir di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama