Puisi Layang-Layang Ungu Karya Joko Pinurbo

Celana ungu pemberian kakekku telah kugubah
menjadi layang-layang; kulepas ia di malam terang.
Terbang, terbanglah layang-layangku, celanaku,
mencium harum bulan: ranum bayi
yang masih disayang waktu;
menjangkau relung bunda di palung senja.

Saat aku sakit, layang-layangku menggelepar manja
di bawah jendela, lalu lenyap entah ke arah mana.

Telepon genggam menyampaikan pesan dari Ibu:
"Layang-layangmu yang lucu telah mendarat
di dahan pohon sawo belakang rumah, tempat kau
dan bulan dulu sering menyepi membaca buku.
Ayahmu yang suka melamun segera berlari.
Ini baru layang-layang, katanya girang sekali.

Kini bapakmu sedang menerbangkan si ungu
di atas bukit di samping kuburan kakekmu.
Bulan sedang nakal-nakalnya. Salam rindu. Ibu."

(2006)


Sumber: "Puisi: Layang-Layang Ungu (Karya Joko Pinurbo)", https://www.sepenuhnya.com/2006/03/puisi-layang-layang-ungu.html.
Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Traktir


Anda suka dengan karya-karya di web Narakata? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan web Narakata ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol traktir di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama