aroma kopi
bercampur asap
menempel di bibir gelas
bangku kayu berdecit
menahan waktu
tangan-tangan dulu
pernah bertukar cerita
di sela receh dan tawa
ketika sore
belum tergesa
wajah alun-alun berganti
ubin licin, lampu terang
ingatan tertinggal
di sudut
yang tak lagi disinggahi
di sini sepi
meski langkah berjejal
sepatu saling mendahului
suara mesin mengiris senja
tanpa saling menoleh
mata-mata tertunduk
pada cahaya kecil
jari sibuk menggeser hari
meja kopi dingin
tanpa percakapan
warung ini
tak kehilangan kursi
hanya kehilangan jeda
tempat duduk
yang dulu bernama singgah
aku menyeruput sisa kopi
rasa pahit menetap
seperti kota
yang belajar diam
di balik layar
malam turun pelan
alun-alun tetap terang
namun suara manusia
tak lagi saling mencari
hanya lewat
(Gresik, 8 Februari 2026)
Sumber: Puisi kiriman Sholihul Mubarok melalui email 18 Juni 2026.
bercampur asap
menempel di bibir gelas
bangku kayu berdecit
menahan waktu
tangan-tangan dulu
pernah bertukar cerita
di sela receh dan tawa
ketika sore
belum tergesa
wajah alun-alun berganti
ubin licin, lampu terang
ingatan tertinggal
di sudut
yang tak lagi disinggahi
di sini sepi
meski langkah berjejal
sepatu saling mendahului
suara mesin mengiris senja
tanpa saling menoleh
mata-mata tertunduk
pada cahaya kecil
jari sibuk menggeser hari
meja kopi dingin
tanpa percakapan
warung ini
tak kehilangan kursi
hanya kehilangan jeda
tempat duduk
yang dulu bernama singgah
aku menyeruput sisa kopi
rasa pahit menetap
seperti kota
yang belajar diam
di balik layar
malam turun pelan
alun-alun tetap terang
namun suara manusia
tak lagi saling mencari
hanya lewat
(Gresik, 8 Februari 2026)
Sumber: Puisi kiriman Sholihul Mubarok melalui email 18 Juni 2026.
