masih kurasi
jalanan berjelaga
di kotamu
tempoe doeloe
debu menahun
menetap di udara
sejak tubuh-tubuh pribumi
dibias paling bawah
masih tercium anyir
di sepanjang lintasan
di antara bangunan tua
tegak menyimpan luka
retak menahan usia
sebagian runtuh
seperti silsilahku
pernah gugur
di jalan yang sama
aku tiba di alun-alun
wajahnya asing
bekas tiang gantungan
hilang
ditelan lapis beton zaman
ada getir
menyusup dada
saat nisan pendatang
menjulang rapi
sementara makam pejuang
terbiar
tanpa nama
ah, Gresik
kau menyerupai kota-kota renta
menanggalkan rupa
meluruhkan ingatan
bumi yang lupa
pada anaknya sendiri
aku tersedu
menarik napas panjang
di sudut meja
di antara wajah-wajah curiga
di kota tua
yang belajar diam
(Gresik, 8 Februari 2026)
Sumber: Puisi kiriman Sholihul Mubarok melalui email 18 Juni 2026.
jalanan berjelaga
di kotamu
tempoe doeloe
debu menahun
menetap di udara
sejak tubuh-tubuh pribumi
dibias paling bawah
masih tercium anyir
di sepanjang lintasan
di antara bangunan tua
tegak menyimpan luka
retak menahan usia
sebagian runtuh
seperti silsilahku
pernah gugur
di jalan yang sama
aku tiba di alun-alun
wajahnya asing
bekas tiang gantungan
hilang
ditelan lapis beton zaman
ada getir
menyusup dada
saat nisan pendatang
menjulang rapi
sementara makam pejuang
terbiar
tanpa nama
ah, Gresik
kau menyerupai kota-kota renta
menanggalkan rupa
meluruhkan ingatan
bumi yang lupa
pada anaknya sendiri
aku tersedu
menarik napas panjang
di sudut meja
di antara wajah-wajah curiga
di kota tua
yang belajar diam
(Gresik, 8 Februari 2026)
Sumber: Puisi kiriman Sholihul Mubarok melalui email 18 Juni 2026.
