(Kepada Arief Rachman, Hudori Hamid, Dipo Alam, A.M. Fatwa, Toto Tasmara, Lukman Hakim, dan semuanya di Kampus Kuning)
Ketika cahaya sudah disiapkan,
sehingga atmosfer terang tembus
bagai cairan bening kimiawi
dan awan diserakkan seperti busa sabun cuci,
Ketika suhu sudah diatur,
sehingga cuaca khatulistiwa bagai subtropika
dan tekanan uap air berbanding keringat
badan terasa sangat sepadan,
Ketika debu usai disapu,
lengan dan jari selesai dihapus hama lalu rata dicuci,
Ketika gelanggang habis dibeton tulang, disemen, dikapur, dicat,
dibangkui, diatapi, dirumputi, diloketi lalu dipagar logami,
Ketika kuda pacu habis dikaji silsilahnya, dikandangkan,
diransum gizi tinggi serta zat mineral,
dibereskan otot-otot gerakannya,
lalu diakrabkan pada medan pacuan,
Ketika penonton berduyun, berjajar,
duduk bersentuh bahu dan suara tambur bertalu-talu,
Ketika pistol dibunyikan, debu beterbangan,
garis-garis jejak berjajar, dan mulailah pacuan tak putus-putusnya,
Ketika para penonton bersorak serta-merta,
kemudian teratur, makin lama makin diatur,
dan terdengarlah tepukan yang tak habis-habisnya,
Ketika gelanggang rumput mengembang dari cetak biru jadi kawasan pacu,
teramat luas tak tampak batas, kebun tanaman keras, ladang minyak,
tambang logam, lahan industri dan hutan rimba eksplorasi,
Ketika kawanan kuda terus berpacu dari pulau ke pulau,
melangkaui menara dan anjungan lepas pantai, antena stasiun transmisi,
dalam derap tak putus-putusnya, ditingkah semangat tepukan tak habis-habisnya,
Ketika anak-anak tak berkarcis bergelantungan di dahan luar gelanggang,
mereka bertahun menonton pertandingan yang semakin kencang,
Ketika pelana joki telah bertatah batu akik, butir zamrud dan intan, kepingan
logam mulia, mata berlian serta berbagai koin emas dunia,
Ketika pacuan makin kencang, penonton bersorak
dan bertepuk prok-prok tak putus-putusnya:
Tanah! Prok-prok-prok!
Kebun! Prok-prok-prok!
Tambang! Prok-prok-prok!
Pabrik! Prok-prok-prok!
Hutan! Prok-prok-prok!
Uang! Prok-prok-prok!
Maha! Prok-prok-prok!
Esa! Prok-prok-prok!
Ketika anak-anak tak berkarcis bergelantungan di dahan luar gelanggang,
mereka bertahun-tahun menonton pertandingan yang semakin
garang, kuda berpacu-pacu mengepul-kan gumpalan debu,
dan tiba- tiba si Toni mengacungkan tangannya yang kecil,
Ketika sekonyong-konyong semuanya berhenti, para joki yang perkasa
menarik kendali, kuda-kuda balap meringkik kedua kaki depan meninggi,
semua penonton menengok ke arah anak yang mengirim sunyi,
Ketika anehnya semua tiba-tiba sepi, si Toni tetap mengacungkan lima jari,
kata-katanya disimak dengan teliti, tatkala suaranya lantang begini:
“Apakah itu tidak keliru,
Karena kedengarannya kurang anu,
Tidak cocok dengan ajaran bapak guru?”
Ketika tiba-tiba pohon besar itu tumbang, anak-anak tak berkarcis
yang bergelantungan menonton pacuan terjatuh bergelimpangan,
ada yang tersangkut di pagar sekolahan, ada yang langsung
jatuh di atap markas pertahanan,
Ketika sunyi sudah mati, kembali penonton bertepuk teratur bertalu-talu,
mereka duduk berjajar bersentuh bahu,
sementara joki- joki yang gagah menggusah kuda tunggang
dan mereka berpacu lagi dengan kencang,
Ketika debu turun naik kembali, suhu turun sub-tropika lagi,
sorak tepuk saling bersahutan:
Keuangan Yang Maha Esa adalah Kalimat Yang Pertama!
Prok-prok-prok!
Pacuan kuda, satu tak terpisahkan dengan kuda pacuan!
Prok-prok-prok!
Sepanjang kebun dan tambang, pabrik dan hutan!
Prok-prok-prok!
Ketika pacuan kuda kembali jadi sangat semarak,
diiringi sejuta tepuk dan sorak,
tersiram debu dan terlanggar balap,
penonton kanak-kanak cedera parah dan patah-patah,
dan si kecil yang mengajukan tanya kini terkapar tanpa kata-kata,
Si Toni kecil, gegar, terkulai dipeluk bapak gurunya.
(1979)
Sumber: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2000).
Ketika cahaya sudah disiapkan,
sehingga atmosfer terang tembus
bagai cairan bening kimiawi
dan awan diserakkan seperti busa sabun cuci,
Ketika suhu sudah diatur,
sehingga cuaca khatulistiwa bagai subtropika
dan tekanan uap air berbanding keringat
badan terasa sangat sepadan,
Ketika debu usai disapu,
lengan dan jari selesai dihapus hama lalu rata dicuci,
Ketika gelanggang habis dibeton tulang, disemen, dikapur, dicat,
dibangkui, diatapi, dirumputi, diloketi lalu dipagar logami,
Ketika kuda pacu habis dikaji silsilahnya, dikandangkan,
diransum gizi tinggi serta zat mineral,
dibereskan otot-otot gerakannya,
lalu diakrabkan pada medan pacuan,
Ketika penonton berduyun, berjajar,
duduk bersentuh bahu dan suara tambur bertalu-talu,
Ketika pistol dibunyikan, debu beterbangan,
garis-garis jejak berjajar, dan mulailah pacuan tak putus-putusnya,
Ketika para penonton bersorak serta-merta,
kemudian teratur, makin lama makin diatur,
dan terdengarlah tepukan yang tak habis-habisnya,
Ketika gelanggang rumput mengembang dari cetak biru jadi kawasan pacu,
teramat luas tak tampak batas, kebun tanaman keras, ladang minyak,
tambang logam, lahan industri dan hutan rimba eksplorasi,
Ketika kawanan kuda terus berpacu dari pulau ke pulau,
melangkaui menara dan anjungan lepas pantai, antena stasiun transmisi,
dalam derap tak putus-putusnya, ditingkah semangat tepukan tak habis-habisnya,
Ketika anak-anak tak berkarcis bergelantungan di dahan luar gelanggang,
mereka bertahun menonton pertandingan yang semakin kencang,
Ketika pelana joki telah bertatah batu akik, butir zamrud dan intan, kepingan
logam mulia, mata berlian serta berbagai koin emas dunia,
Ketika pacuan makin kencang, penonton bersorak
dan bertepuk prok-prok tak putus-putusnya:
Tanah! Prok-prok-prok!
Kebun! Prok-prok-prok!
Tambang! Prok-prok-prok!
Pabrik! Prok-prok-prok!
Hutan! Prok-prok-prok!
Uang! Prok-prok-prok!
Maha! Prok-prok-prok!
Esa! Prok-prok-prok!
Ketika anak-anak tak berkarcis bergelantungan di dahan luar gelanggang,
mereka bertahun-tahun menonton pertandingan yang semakin
garang, kuda berpacu-pacu mengepul-kan gumpalan debu,
dan tiba- tiba si Toni mengacungkan tangannya yang kecil,
Ketika sekonyong-konyong semuanya berhenti, para joki yang perkasa
menarik kendali, kuda-kuda balap meringkik kedua kaki depan meninggi,
semua penonton menengok ke arah anak yang mengirim sunyi,
Ketika anehnya semua tiba-tiba sepi, si Toni tetap mengacungkan lima jari,
kata-katanya disimak dengan teliti, tatkala suaranya lantang begini:
“Apakah itu tidak keliru,
Karena kedengarannya kurang anu,
Tidak cocok dengan ajaran bapak guru?”
Ketika tiba-tiba pohon besar itu tumbang, anak-anak tak berkarcis
yang bergelantungan menonton pacuan terjatuh bergelimpangan,
ada yang tersangkut di pagar sekolahan, ada yang langsung
jatuh di atap markas pertahanan,
Ketika sunyi sudah mati, kembali penonton bertepuk teratur bertalu-talu,
mereka duduk berjajar bersentuh bahu,
sementara joki- joki yang gagah menggusah kuda tunggang
dan mereka berpacu lagi dengan kencang,
Ketika debu turun naik kembali, suhu turun sub-tropika lagi,
sorak tepuk saling bersahutan:
Keuangan Yang Maha Esa adalah Kalimat Yang Pertama!
Prok-prok-prok!
Pacuan kuda, satu tak terpisahkan dengan kuda pacuan!
Prok-prok-prok!
Sepanjang kebun dan tambang, pabrik dan hutan!
Prok-prok-prok!
Ketika pacuan kuda kembali jadi sangat semarak,
diiringi sejuta tepuk dan sorak,
tersiram debu dan terlanggar balap,
penonton kanak-kanak cedera parah dan patah-patah,
dan si kecil yang mengajukan tanya kini terkapar tanpa kata-kata,
Si Toni kecil, gegar, terkulai dipeluk bapak gurunya.
(1979)
Sumber: Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2000).
