(1)
Matahari 11 Zulhijjah tahun ini
Adalah matahari 17 Agustus 1986 di padang Mina
Di atas kemah-kemah Indonesia.
Kulihat sepotong kain berjahit diikat di atas tiang
Ditiup angin dhuha
Merah-putih berkibar perlahan
Subhanallah
Pagi tepat semacam ini baru akan berulang
Tigapuluhtiga tahun lagi
Di tanah suci
Alhamdulillah
Sudah 41 tahun kusaksikan merah-putih
Berkibar pagi hari
Tapi pagi ini betapa istimewa
Bagi enampuluhribu peziarah Indonesia
Allahu Akbar
Hamba, seorang di antara mereka Dengan nomor KTP 5104.29121
Jenis kelamin laki-laki, golongan darah A
Lahir di Bukittinggi, besar di Pekalongan
Alamat RT 013, RW 006
Kelurahan Hutan Kayu, Kecamatan Matraman
Pekerjaan swasta
Kini, pemegang KTP ini, lihatlah
Dia di atas pualam Masjidil Haram
Sedang bersila di lantai dua
Sambil mengenang nikmat kebebasan negerinya
Melihat tawaf yang tak putus-putusnya
Sejak Baytil 'Atiq ini didirikan ribuan tahun yang lalu
Sejumlah putaran telah dilakukan dahulu
Berjuta putaran oleh berjuta jamaah
Dan nampak-nampak oleh hamba putaran
Dilakukan Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin
Tengku Haji Muhamad Saman
Tengku Haji Cik Muhamad Amien Dayah Cut
Tengku Chik Pantee Kulu
Sehabis tawaf dan wukuf mereka pulang ke kampung halaman
Bersinar cahaya hidayah
Dengan berani memulai perang kemerdekaan
Berpuluh tahun dalam kegigihan
Sengitnya perlawanan
Meretas belenggu
Membela yang dimiskinkan, yang berabad sasaran penipuan
Menaikkan derajat kaum dhu'afa
Membebaskan negeri mereka yang dizalimi
Berpuluh tahun dalam sengitnya perlawanan
Dan karena niat yang li-Llah semata
Barakah dua dalam hadiah Dikau, Rabbana
Alhamdulillah
Hamba, bisa memegang KTP Kelurahan Hutan Kayu ini
Adalah barakah nikmat kemerdekaan negeri
Yang telah mereka rintiskan
Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pangeran Antasari
Sultan Banten, Cut Nyak Din, Syarif Hidayahtullah
Tengku Umar, Tengku Cik di Tiro, Imam Bonjol
Dan banyak lagi
Berbanjar dan bersaf-saf
Mereka luar biasa berani
Para syuhada kita
Yang sebenarnya tiada mati-matinya
Jannah jualah bagi mereka
Perkenankan kiranya.
(2)
Di atas pualam Masjidil Haram
Ketika beribu orang tawaf jadi gelombang
Berputar bagi gugus berjuta bintang
Di angkasa sana
Kau bayangkan sebuah titik yang melayang
Bagai sebutir kristal yang kilau-kemilau
Seorang penyair yang merenung dan terpukau
Tentang apa yang akan ditulisnya dalam perjalanan pulang
Antara pelabuhan Jeddah dan Pulau Pinang
Penyair itu tengah tawaf kini
Dan sepasukan malaikat membimbingnya
Lalu ilham merasuk ke dalam jaringan tubuhnya
Tersimpan rapi dalam susunan syarafnya
Lalu mengalir dalam dawat lewat kalamnya
Lihat, seorang penyair abad sembilan belas
Haji Tengku Chik Muhamad Pantee Kulu
Dalam umur matang 45 tahun
Sedang menuliskan puisi panjangnya
Hikayat Perang Sabil
Terdengarkah olehmu guratan kalamnya
Berdesir di atas sebuah kapal layar
Enam pekan lamanya digoyang angin lautan Hindia
Seberkah puisi besar dalam empat bahagian
Yang tak ada tandingannya, sedang dituliskan
Dalam membangkitkan nyali mempertahankan kemerdekaan
Nampakkah olehmu
Puisi itu diserahkan kepada Tengku Cik di Tiro
Di sebuah desa di dekat Sigli
Dan puisi itu berubah jadi sejuta rencong?
Terdengarkah olehmu merdunya Al Furqan dinyanyikan
Kemudian puisi Perang Sabil dibacakan
Yang mendidihkan darah
Yang memanggang udara
Menjelang setiap pasukan terlibat pertempuran
Mengibarkan panji fi-sabilil-Lah
Allah, berkahi kiranya penyair besar ini
Beri dia firdaus seluas langit dan bumi
Di alam yang dimensi waktunya tak dapat dikira
Dia telah menulis puisi yang berfaedah
Berpuluh tahun bilangannya
Buat berpuluh juta manusia
Puisi yang masuk membenam dalam bumi kita
Menumbuhkan pohon dengan daunan kemerdekaan
Rimbun dan betapa lezat buahnya
Hamba menulis puisi juga
Betapa kurus puisi hamba
Kurang sikap ikhlas hamba
Banyak riya
Ingin tepukan tangan
Apalah artinya
Dibanding puisi Muhammad Pantee Kulu
Allah, berkahi penyair abad sembilan belas ini
Beri dia firdaus seluas langit dan bumi
Kini saksikan gelombang beribu jamaah
Mengitari Ka'bah
Dalam garis-garis arus yang indah
Serasa kulihat dia tawaf 105 tahun yang silam
Serban putihnya melambai dalam
Ketika penyair besar ini
Menyerap ilham puisi
Hikayat Perang Sabil.
(1406/1986)
Sumber: Horison (Juni, 1988).
Matahari 11 Zulhijjah tahun ini
Adalah matahari 17 Agustus 1986 di padang Mina
Di atas kemah-kemah Indonesia.
Kulihat sepotong kain berjahit diikat di atas tiang
Ditiup angin dhuha
Merah-putih berkibar perlahan
Subhanallah
Pagi tepat semacam ini baru akan berulang
Tigapuluhtiga tahun lagi
Di tanah suci
Alhamdulillah
Sudah 41 tahun kusaksikan merah-putih
Berkibar pagi hari
Tapi pagi ini betapa istimewa
Bagi enampuluhribu peziarah Indonesia
Allahu Akbar
Hamba, seorang di antara mereka Dengan nomor KTP 5104.29121
Jenis kelamin laki-laki, golongan darah A
Lahir di Bukittinggi, besar di Pekalongan
Alamat RT 013, RW 006
Kelurahan Hutan Kayu, Kecamatan Matraman
Pekerjaan swasta
Kini, pemegang KTP ini, lihatlah
Dia di atas pualam Masjidil Haram
Sedang bersila di lantai dua
Sambil mengenang nikmat kebebasan negerinya
Melihat tawaf yang tak putus-putusnya
Sejak Baytil 'Atiq ini didirikan ribuan tahun yang lalu
Sejumlah putaran telah dilakukan dahulu
Berjuta putaran oleh berjuta jamaah
Dan nampak-nampak oleh hamba putaran
Dilakukan Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin
Tengku Haji Muhamad Saman
Tengku Haji Cik Muhamad Amien Dayah Cut
Tengku Chik Pantee Kulu
Sehabis tawaf dan wukuf mereka pulang ke kampung halaman
Bersinar cahaya hidayah
Dengan berani memulai perang kemerdekaan
Berpuluh tahun dalam kegigihan
Sengitnya perlawanan
Meretas belenggu
Membela yang dimiskinkan, yang berabad sasaran penipuan
Menaikkan derajat kaum dhu'afa
Membebaskan negeri mereka yang dizalimi
Berpuluh tahun dalam sengitnya perlawanan
Dan karena niat yang li-Llah semata
Barakah dua dalam hadiah Dikau, Rabbana
Alhamdulillah
Hamba, bisa memegang KTP Kelurahan Hutan Kayu ini
Adalah barakah nikmat kemerdekaan negeri
Yang telah mereka rintiskan
Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pangeran Antasari
Sultan Banten, Cut Nyak Din, Syarif Hidayahtullah
Tengku Umar, Tengku Cik di Tiro, Imam Bonjol
Dan banyak lagi
Berbanjar dan bersaf-saf
Mereka luar biasa berani
Para syuhada kita
Yang sebenarnya tiada mati-matinya
Jannah jualah bagi mereka
Perkenankan kiranya.
(2)
Di atas pualam Masjidil Haram
Ketika beribu orang tawaf jadi gelombang
Berputar bagi gugus berjuta bintang
Di angkasa sana
Kau bayangkan sebuah titik yang melayang
Bagai sebutir kristal yang kilau-kemilau
Seorang penyair yang merenung dan terpukau
Tentang apa yang akan ditulisnya dalam perjalanan pulang
Antara pelabuhan Jeddah dan Pulau Pinang
Penyair itu tengah tawaf kini
Dan sepasukan malaikat membimbingnya
Lalu ilham merasuk ke dalam jaringan tubuhnya
Tersimpan rapi dalam susunan syarafnya
Lalu mengalir dalam dawat lewat kalamnya
Lihat, seorang penyair abad sembilan belas
Haji Tengku Chik Muhamad Pantee Kulu
Dalam umur matang 45 tahun
Sedang menuliskan puisi panjangnya
Hikayat Perang Sabil
Terdengarkah olehmu guratan kalamnya
Berdesir di atas sebuah kapal layar
Enam pekan lamanya digoyang angin lautan Hindia
Seberkah puisi besar dalam empat bahagian
Yang tak ada tandingannya, sedang dituliskan
Dalam membangkitkan nyali mempertahankan kemerdekaan
Nampakkah olehmu
Puisi itu diserahkan kepada Tengku Cik di Tiro
Di sebuah desa di dekat Sigli
Dan puisi itu berubah jadi sejuta rencong?
Terdengarkah olehmu merdunya Al Furqan dinyanyikan
Kemudian puisi Perang Sabil dibacakan
Yang mendidihkan darah
Yang memanggang udara
Menjelang setiap pasukan terlibat pertempuran
Mengibarkan panji fi-sabilil-Lah
Allah, berkahi kiranya penyair besar ini
Beri dia firdaus seluas langit dan bumi
Di alam yang dimensi waktunya tak dapat dikira
Dia telah menulis puisi yang berfaedah
Berpuluh tahun bilangannya
Buat berpuluh juta manusia
Puisi yang masuk membenam dalam bumi kita
Menumbuhkan pohon dengan daunan kemerdekaan
Rimbun dan betapa lezat buahnya
Hamba menulis puisi juga
Betapa kurus puisi hamba
Kurang sikap ikhlas hamba
Banyak riya
Ingin tepukan tangan
Apalah artinya
Dibanding puisi Muhammad Pantee Kulu
Allah, berkahi penyair abad sembilan belas ini
Beri dia firdaus seluas langit dan bumi
Kini saksikan gelombang beribu jamaah
Mengitari Ka'bah
Dalam garis-garis arus yang indah
Serasa kulihat dia tawaf 105 tahun yang silam
Serban putihnya melambai dalam
Ketika penyair besar ini
Menyerap ilham puisi
Hikayat Perang Sabil.
(1406/1986)
Sumber: Horison (Juni, 1988).
