Puisi Batu ke Lima Puluh Satu Karya Taufiq Ismail

Seorang penjahat dan pembunuh lama
Sedang berjalan sendirian
Di lebuh pasir ini
Gamisnya terjela menyapu debu
Cambangnya lebat tak teratur
Dia sudah berangkat tua
Dan mulai berpikir tentang dosa
Pezina ini sudah bertanya-tanya
Apa?
Siapa?
Dimana?
Bagaimana?
Sesekali dia berhenti.
Ada nyeri di dada
Itu gangguan pada klep jantungnya
Tapi semua orang menghindarinya
Pedagang-pedagang sutra, pengunjung warung syahi
Ibu-ibu menyentakkan dan menariki anak-anak mereka
Perempuan-perempuan muda mengintip dari celah jendela
Tukang poci menutup dagangannya
— Neraka wail juga baginya!
Terpancar dari cahaya mata mereka
— Neraka wail juga bagimu!
Ketika pandangan mereka bertemu
Pemabuk itu bisa saja sangat marah
Pada umur 49, dia masih amat mahir dengan jenawinya
Tapi sesuatu mencegahnya untuk marah
Mengamuk dan membunuh. Agak aneh
Tiba-tiba dia bisa amat sabar
Dan pergi saja meninggalkan bazaar
Sesuatu mendorongnya segera berangkat
Siapa?
Dimana? Bagaimana?
Gamisnya terjela menyapu debu
Pasir masuk keluar antara jari di sandalnya
Ketika matahari jazirah tepat di tengah
Dan di gerbang, dia bersobok lelaki itu
Ganteng dan putih, tinggi tujuh kaki
Sukar diterka berapa umurnya
Muda tiada, tua belum pula
Penjahat itu tiba-tiba merasa nyeri
Di balik tulang dada-kirinya ke tujuh
Dia hampir pula terjatuh
Lelaki itu menangkap lengannya
Kemudian menjentik dada-kirinya
Nyeri itu hilanglah seketika
— Assalamu'alaikum, katanya
"Selamat dan sejahtera buat saya?
Wahai. Tidak pernah orang mengucapkan itu
Kepadaku!
Mmm. Tapi tuan tidak kenal saya. Siapa anda?
Penghulu kabilah mana?
Saudagar perca?
Ulama?
Perantau dari Farsi? Aaa.
Hulubalang raja barangkali?
Atau pedagang batu-batuan berharga?
Tidak semuanya. Jadi...
Tapi saya senang memandang mukamu
Sungguh. Ini jarang terjadi".
— Anda harus pergi segera
"Kemana? Bagaimana? Sekarang juga
Tapi umurku empat puluh sembilan
Aku sering asma dan tentu memerlukan kuda
Paling tidak seekor unta
Jadi aku harus jalan kaki
Ini tidak sepenuhnya kumengerti
Tapi sutra anda amat berwibawa
Dan saya senang memandang mukamu
Aku sebenarnya cuma bajingan
Dan dimana perlu saya membunuh
Serta meniduri perempuan kemah mana saja
Atas perintah bukan siapa, hanya kemauan saya
Tidak suatu pun bisa merintangi kehendakku
Bersama anak-buahku
Tapi sesudah tiga puluh tahun
Aku cape
Amat cape
Apa?
Siapa?
Dimana?
Bagaimana ini semua?
Coba tuan katakan, apa saya akan masuk neraka
Semua orang begitu berkata. Awam dan ulama desa
Siapa bisa membebaskan dan menebus dosa saya
Tolong tuan katakan. Tidak ada?
Jadi anak Abdullah itu juga tak bisa?
Oh?
"Hanya dengan kekuatan sendiri
Menebus dosa pribadi".
Tidak tergantung penolongan siapapun?
Ini berat.
Dosaku bukit batu, beban di atas bahu
Jadi saya mesti berangkat sekarang. Baiklah
Seratus batu jalan kaki
Aku mengerti. Suara anda amat berwibawa
Saya sebenarnya bajingan tak kena diperintah
Tapi saya senang pada pribadimu
Jadi Utusan itu tak bisa memohonkan ampun kedurjanaanku
Karena antara Tuhan dan daku
Tak ada perantara
Wahai garis tegaklurus yang ajaib!
Hubungan yang kiranya amat karib!
Ya Raqib!
Ya Ghafur!
Ya Mujib!
Biarlah sengangar padang pasir
Biarlah tali terompahku putus
Biarlah otot-ototku kampuh".
Dan malam tenggelam
Dan fajar menggariskan api
Angin samun
Membadaikan bukit pasir
Awan-awan meniupkan api
Lelaki itu berjalan seperti histeris
Gamisnya berkibar-kibar
Dimana? Bagaimana?
Waktu cair
Meleleh di padang pasir
Menjelang separuh jarak, sang musafir
Digoyang mabuk panas
Sejuta bunga api berputar ganas
Katup jantungnya serasa ditusuk
Dia tersungkur
Pundi-airnya kosong
Tiba-tiba lelaki perkasa itu muncul lagi
Menarik bahunya sampai berdiri sendiri
— Beringsutlah selangkah lagi maju
Supaya genap lima puluh satu batu
Sesak nafas terhuyung dia maju
Kedua lelaki itu berpandangan kini
Si ganteng tersenyum sedikit
Bajingan itu letih, asmatis, berkomat-kamit
Si ganteng lalu menjentik dada-kirinya
Katup jantungnya mendadak macet
Dan menutup sirkulasi. Tubuh itu melemas
Maka Malaikat Maut memeluknya cepat
Kemudian membawanya terbang melesat
Gamis mereka berkibar-kibar
Si penjahat tak sempat melihat Muhammad
Karena di tengah jalan Malaikat Maut mencegat
Yang menerbangkannya
Langsung ke suarga

(1968)



Sumber: Horison (September, 1968).
Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Dukungan


Apakah Anda suka dengan karya-karya yang ada di narakata? Jika iya, Anda bisa memberi dukungan untuk narakata agar dapat tetap hidup dan update. Silakan klik tombol di bawah ini sesuai dengan nominal yang ingin Anda berikan. Sedikit atau banyaknya dukungan yang Anda berikan sangat berarti bagi kami. Terima kasih.

Nih buat jajan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama