Puisi Pada Suatu Karya Joko Pinurbo

Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata,
"Kiamat tak akan ada selama kau masih dapat
mengucapkan pada suatu hari atau pada suatu ketika."

Dengan pada suatu hari atau pada suatu ketika
engkau yang kacau dapat disusun kembali,
aku yang beku dapat mencair dan mengalir kembali.

Dalam pelajaran mengarang di sekolah
kau pasti pernah menggunakan pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Begitu pun saya.

"Hidupmu lebih luas dari pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Carilah pada suatu yang lain,"
pesan guru saya saat saya lulus dan berpamitan.

Pada suatu cium surga samar-samar terbuka;
maut tersipu, silau oleh cahaya matamu.
Pada suatu tidur bantal terpental, guling terguling,

dan di atas ranjang yang runtuh doaku utuh.
Pada suatu kenyang piring bersabda, "Nikmat apa lagi
yang kauminta bila lidahmu tak pernah bisa bahagia?"

Pada suatu syukur ada suara burung trilili
yang gemar bermain tralala sepanjang waktu
dan tak pernah bertanya, "Apakah kebahagiaan itu?"

Pada suatu mandi tak ada sumur yang abadi.

(2016)


Sumber: Buku Latihan Tidur (2017).
Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Traktir


Anda suka dengan karya-karya di web Narakata? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan web Narakata ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol traktir di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama