Puisi Dalam Demam Karya Joko Pinurbo

Anak lelaki kecil melambai-lambai
dalam ingatan. Ia datang naik sepeda,
menyusuri jalanan kecil di tengah hutan cemara.

Bajunya hijau, celananya hitam,
tubuhnya terlihat ringkih dan ringan,
dan ia bersenandung riang,
kring kring..., sepeda merahnya meluncur pelan.

Awas, jangan melamun, di depan ada tikungan.
Tiba-tiba ia lari dikejar-kejar hujan,
meliuk-liuk menuruni tebing curam,
mau belok ke kiri keliru ke kanan,
oh akhirnya tergelincir ke gigir jurang.

Seperti kudengar suara aduh dari lembah
yang jauh, jeritan waktu dari relung yang dalam.

Dengan kaki dan dahi berdarah,
tahu-tahu ia muncul kembali di atas bukit.
Ia mengayuh sepedanya yang cidera
menuju rumah: si ibu sejak tadi didera gundah.

Setelah minum tiga tetes airmata ibunya,
sakitnya lerai. senja berangkat tidur dengan damai.

(2006)


Sumber: "Puisi: Dalam Demam (Karya Joko Pinurbo)", https://www.sepenuhnya.com/2008/03/puisi-dalam-demam.html.
Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Traktir


Anda suka dengan karya-karya di web Narakata? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan web Narakata ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol traktir di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama