Puisi Bercukur Sebelum Tidur Karya Joko Pinurbo

Bercukur sebelum tidur,
membilang hari-hari yang hancur,
membuang mimpi-mimpi yang gugur,
memangkas semua yang ranggas dan uzur,
semoga segala rambut segala jembut
bisa lebih rimbun dan subur.
Lalu datang musim
dalam curah angin
menumpahkan air ke seluruh daratan,
ke gunung-gunung murung
dan lembah-lembah lelah
di seantero badan.
Jantungku meluap, penuh.
Sungai menggelontor, hujan menggerejai
di sektor-sektor irigasi di agrodarahku.
Malam penuh traktor, petani mencangku
di hektar-hektar dagingku.
Tubuhku hutan yang dikemas
menjadi kawasan mega industri
di mana segala cemas segala resah
diolah di sentra-sentra produksi.
Tubuhku ibu kota kesunyian yang diburu investor
dari berbagai penjuru.
Tubuhku daerah lama yang ditemukan kembali,
daerah baru yang terberkati.
Lalu tubuhku bukan siapa-siapa lagi.
Tubuhku negeri yang belum diberi nama,
dan kuberi saja nama dengan sebuah ngilu
saat bercukur sebelum tidur.

(1999)

Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Traktir


Anda suka dengan karya-karya di web Narakata? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan web Narakata ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol traktir di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama