Puisi Mudik Karya Joko Pinurbo

Mei tahun ini kusempatkan singgah ke rumah.
Seperti pesan Ayah, “Nenek rindu kamu. Pulanglah!”

Waktu kadang begitu simpel dan sederhana:
Ibu sedang memasang senja di jendela.
Kakek sedang menggelar hujan di beranda.
Ayah sedang menjemputku entah di stasiun mana.
Siapa di kamar mandi?
Terdengar riuh anak-anak sedang bernyanyi.

Nenek sedang meninggal dunia.
Tubuhnya terbaring damai di ruang doa,
ditunggui boneka-boneka lucu kesayangannya.
“Hai, bajingan kita pulang!” seru boneka singa
yang tetap perkasa dan menggigil saja ia
saat kubelai-belai rambutnya.

Ayah belum juga datang, sementara taksi
yang menjemputku sudah menunggu di depan pintu.
Selamat jalan, Nek. Selamat tinggal semuanya.
Baik-baik saja di rumah. Salam untuk Bapak tercinta.

Dengan sudah payah akhirnya aku bisa melunasi
uang kontrak. Bahkan diam-diam si rumah sumpek ini
kupugar-kurombak. Saat si empunya datang, ia terharu
mendapatkan rumahnya sudah jadi baru.
Sayang si penghuninya sudah tak ada di sana.
Ia sudah pulang kampung, kata seorang tetangga.

“Orgil, aku tak akan pernah merobohkan rumah ini.
Aku akan tinggal di rumahmu ini.”
(2001)


Sumber: Buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.
Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Traktir


Anda suka dengan karya-karya di web Narakata? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan web Narakata ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol traktir di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama