Peluh bermalam
Di tepi sunyi
Atas nama kehidupan
Memiliki bercak iritasi
Lukanya tumpah
Muntah di pelangi
Tapi hati?
Tersisa benturan keras
Langit berselimut rasa
Skenario yang terjeda
Manakala raga mulai bertukar nyawa
Senyap yang meluber
Tidak bisa di rem!
Terperangkap di ujung diri
Hidup dikuras isinya
Gempar semua ironi
Tiada hari tanpa sesak
Sinyal derita
Menopang topeng waktu
Nestapa menerjang cerita
Jawaban di atas kalbu
Kamu adalah sanjungan asmara
Kata ini semakin terjerembab
Di antara ribuan suka duka
(Tangerang Selatan 6 Juni 2026)
Sumber: Puisi kiriman Aviaska Azizah melalui email 12 Agustus 2026.
Di tepi sunyi
Atas nama kehidupan
Memiliki bercak iritasi
Lukanya tumpah
Muntah di pelangi
Tapi hati?
Tersisa benturan keras
Langit berselimut rasa
Skenario yang terjeda
Manakala raga mulai bertukar nyawa
Senyap yang meluber
Tidak bisa di rem!
Terperangkap di ujung diri
Hidup dikuras isinya
Gempar semua ironi
Tiada hari tanpa sesak
Sinyal derita
Menopang topeng waktu
Nestapa menerjang cerita
Jawaban di atas kalbu
Kamu adalah sanjungan asmara
Kata ini semakin terjerembab
Di antara ribuan suka duka
(Tangerang Selatan 6 Juni 2026)
Sumber: Puisi kiriman Aviaska Azizah melalui email 12 Agustus 2026.
