Puisi Kita; Tak Lebih Besar Dari Debu Karya Sholihul Mubarok

1//

kita pernah menjadi
setitik debu
di antara debu-debu lain
berputar pelan
mengikuti arah
yang tak pernah benar-benar kita pilih

seperti gangsing kecil
di lantai masa lalu
berputar karena sentuhan
bukan karena kuasa
lalu berhenti
saat lelah menemukan tepinya

malam waktu itu
tak sepenuhnya gelap
ada lampu-lampu jarak jauh
menyala seadanya
cukup untuk mengingatkan
bahwa kita pernah ada

dan di pusaran itu
aku bertanya pelan
bukan untuk mencari jawaban
hanya memastikan
kenangan masih
menyebut nama kita

/2/

tempat kita berpijak
tak pernah benar-benar luas
namun cukup
untuk menyimpan langkah
yang pernah ragu
dan tawa yang nyaris lupa

kita tumbuh
dengan cara masing-masing
kadang terlalu yakin
kadang salah arah
lalu belajar
menerima bentuk yang tersisa

tak ada yang perlu disesali
semua pernah singgah
sebagai cerita
yang menua perlahan
di ingatan
yang tak selalu setia

pada akhirnya
kita kembali sederhana
seperti debu
yang memilih diam
namun tetap tinggal
di sudut kenangan

(Gresik, 8 Februari 2026)


Sumber: Puisi kiriman Sholihul Mubarok melalui email 18 Juni 2026.
Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Dukungan


Apakah Anda suka dengan karya-karya yang ada di narakata? Jika iya, Anda bisa memberi dukungan untuk narakata agar dapat tetap hidup dan update. Silakan klik tombol di bawah ini sesuai dengan nominal yang ingin Anda berikan. Sedikit atau banyaknya dukungan yang Anda berikan sangat berarti bagi kami. Terima kasih.

Nih buat jajan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama