Puisi Sepasang Karya Fiersa Besari

Pertemuan kita begitu sederhana.
Aku tersesat di antara keramaian,
dan kau menyapaku dari kerumunan.
Dari saat kau melempar senyuman,
aku tahu duniaku akan dilanda kekacauan.
Sejak itu, yang ada hanya sunyi,
dan dirimu hadir sebagai satu-satunya bunyi.

Perkenalan kita begitu sederhana.
Jantungku berdegup kencang,
kau datang sebagai penenang.
Sejak itu hari-hariku selalu tentang menyusul langkahmu
yang seringkali hanya tersisa
sebagai jejak yang rumit dilacak.

Maaf. Hidup membentukku menjadi rumit.
Tapi tolong jangan pamit.
Karena dengan cara yang sederhana,
kau membuatku lebih baik setiap harinya.
Kita pun mencoba menjalani dengan segenap yakin,
apa yang kita anggap tidak mungkin.

Dan ketidakmungkinan itu sempat membuatku
ingin mengaku kalah.
Tapi anehnya,
kita selalu saja kembali di tempat yang sama,
saling berhadapan,
dengan debar yang tidak juga mereda.
Itulah kenapa aku tidak mau mundur.
Hatiku keras kepala.

Kau keras kepala, aku pun juga.
Dan kita menjelma dua orang pejuang
yang saling mendekap erat ketika hari terlalu berat;
yang mati-matian mempertahankan hubungan
melewati segala perbedaan.

Perbedaan kita memang terlampau jauh.
Tapi, detak kita teramat dekat.
Kita memang tidak pernah bisa memilih
kepada siapa hati dijatuhkan.
Tapi, kita selalu bisa memilih untuk tinggal
atau meninggalkan.

Dahulu, aku memilih untuk hanya singgah.
Sekarang, aku memilih untuk menjadikanmu rumah.

Maka, setiap kali ingin menyerah,
ingat lagi, sudah sejauh apa kita melangkah.

Semoga, sampai tua.

Semoga, selamanya.

Hari ini, hatiku sudah mantap.
Kau orangnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama