Dalam sempitnya dunia makhluk fana,
semuanya diukur oleh rupa.
Pesona seolah memegang semua kendali,
namun, seberapa dalam yang sebenarnya sanggup kau beri?
Sejak belia, mereka menyebutku jelita,
bagaikan boneka, katanya,
tanpa pernah tahu apa maknanya,
hatiku berbunga dipuja istimewa.
Mereka memandangku seolah pajangan,
seakan kecantikan hanya sebatas hiburan.
Bagai pertunjukan aku berjalan,
tampil demi pandangan orang.
“Cantik itu kutukan”, cetus ku,
diurai bagai data, diteliti secara menyeluruh.
Rasanya penampilan bukan lagi pilihan,
melainkan tuntutan yang harus selalu dijaga.
Aku membentuk diriku menurut ekspektasi publik,
hingga wujud asliku nyaris hilang terlupakan.
Aku dipamerkan bagai pajangan, dijadikan objek hidup,
yang semua ingini, bertindak seakan keberadaanku mereka miliki.
Semua orang memang punya mata, tapi siapa yang benar-benar melihat?
Sumber: Puisi kiriman Tifanie Rivera Pangestu melalui email 24 November 2025.
semuanya diukur oleh rupa.
Pesona seolah memegang semua kendali,
namun, seberapa dalam yang sebenarnya sanggup kau beri?
Sejak belia, mereka menyebutku jelita,
bagaikan boneka, katanya,
tanpa pernah tahu apa maknanya,
hatiku berbunga dipuja istimewa.
Mereka memandangku seolah pajangan,
seakan kecantikan hanya sebatas hiburan.
Bagai pertunjukan aku berjalan,
tampil demi pandangan orang.
“Cantik itu kutukan”, cetus ku,
diurai bagai data, diteliti secara menyeluruh.
Rasanya penampilan bukan lagi pilihan,
melainkan tuntutan yang harus selalu dijaga.
Aku membentuk diriku menurut ekspektasi publik,
hingga wujud asliku nyaris hilang terlupakan.
Aku dipamerkan bagai pajangan, dijadikan objek hidup,
yang semua ingini, bertindak seakan keberadaanku mereka miliki.
Semua orang memang punya mata, tapi siapa yang benar-benar melihat?
Sumber: Puisi kiriman Tifanie Rivera Pangestu melalui email 24 November 2025.
