Puisi Melepaskan Karya Fiersa Besari

Kita pernah merencanakan banyak hal.
Menggebu-gebu, seperti remaja baru mengenal rasa.
Setiap hari ada saja yang diceritakan.
Dari segudang impian, hingga sebatas mengingatkan tentang istirahat dan makan.
Kita menertawakan dunia, seolah mereka semua serupa, dan hanya kita yang berbeda.
Kemudian ketika malam tiba, kita saling mendoakan supaya jalannya dimudahkan.
Jatuh cinta memang jenaka.
Aku ingin jadi penulis yang mengisahkan cerita ini, denganmu sebagai tokoh utamanya.
Kau tahu?
Yang paling kusuka adalah bab di mana kau menjadikanku pemberani, tak gentar meski harus menghadapi halang rintang.
Keluh kesahku jadi milikmu.
Kesedihanmu jadi milikku.
Saling mengobati, lagi dan lagi.
Sampai lupa bahwa terlalu banyak mengonsumsi obat juga bukan hal yang baik.
Diam-diam kita memendam rasa sakit.
Menganga, dan terus membesar.
Yang menjadi landasan untuk bersama, kini menjadi alasan untuk berpisah.
Ternyata, cocok saja tidak cukup.
Jatuh cinta memang jenaka.
Kita sebetulnya tidak merencanakan banyak hal.
Kita hanya sedang berandai-andai.
Sampai lupa berpijak pada kenyataan;
kenyataan yang kita tahu sedari awal bahwa kau dan aku takkan berujung di rumah yang sama.
Kita memaksa berpelukan, tanpa sadar bahwa kadang, yang paling kita peluk adalah yang paling menyakiti.
Makin erat, makin melukai.
Dilepas memang berat, tapi mungkin itu yang terbaik.
Aku kembali berdoa, dan terus berdoa.
Hingga kemudian hari aku mengerti, Tuhan tidak mau kita hancur berantakan, makanya dipisahkan di persimpangan jalan.
Doa tentang jalan yang dimudahkan, berubah menjadi doa supaya hati dikuatkan.
Karena kita berdua tahu, jalannya sudah buntu.
Aku adalah penulis yang mengisahkan cerita ini, dan kita sudah tiba pada bab terakhir.
Bab ini berisi tentang belajar untuk tidak menyapa.
Tentang belajar untuk berhenti menyayangi.
Tentang belajar peduli tanpa perlu lagi diperlihatkan.
Yang terutama, tentang belajar melepaskan.
Karena seperti katamu dulu,
"Melepaskan juga bagian dari perjuangan"


Sumber: Youtube Fiersa Besari
Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Traktir


Anda suka dengan karya-karya di web Narakata? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan web Narakata ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol traktir di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama