Puisi Tangan Seorang Buruh Batu-Arang Karya Agam Wispi

trem lari-lari di bawah rintik salju
wajah dalamnya tiada sehijau rumput negeriku
di sini di bumi kelabu
hanya pohon natal bagai pagoda
tinggal sendiri
dan sepi
menanti musim semi

trem lari-lari-anjing di bawah rintik salju
seorang memberi tangannya dan bertanya
darimana kau datang? Afrika? tidak.
Vietnam? Tiongkok?
dia sendiri yang menjawab: apa gunanya pertanyaan-pertanyaan?
Kau-aku datang dari tangan yang bekerja
Dan aku tak-sampai-hati bilang, ya, apalah harga kedangkalan kata
“aku datang dari ribuan pulau rangkaian permata”
jika mutiara terpendam di laut dalam
jika pohon natal sendiri bagai pagoda sepi menanti musim semi?
tapi ini: kau datang dari tangan yang bekerja

trem lari-lari-anjing di bawah rintik salju
dia diberi tangannya aku beri kantongku
rokok? tidak. api? tidak. coklat? tidak. apa yang dia mau?
adakah dingin yang mengendap membuat kalimat
begitu banyak ditidakkan?
atau busa bir dihapus dari bibir
dan orang bisa tertawa riang?

jawaban itu tergores di tangan yang kujabat
kasar, kapalan dan belontengan hitam
tangan itu juga yang mengusap salju dari jendela
dan muka-jernihnya muncul bagai mentari musim semi
berkata begitu sederhana dan kuat:
aku mau damai

trem lari-lari-anjing di bawah rintik salju
hilang di pengkolan dan derunya tinggal jauh
tangan itu masih melambai, dia melambai kepada dunia
karena baginya buruh adalah batu arang
yang dibakar dan membakar
yang apinya menghangati orang-orang yang bercinta
dalam sedikit kata: aku mau damai



Sumber: "Gugur Merah", Merakesumba, Jogjakarta, 2008.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama