Puisi Aku dan Tungganganku Karya Agam Wispi

kau menyebutku orang buangan. aku seorang kelana, sebenarnya. aku tidur dan jaga di atas kudaku. aku dan tungganganku adalah satu. kami saling meringkik saling menggoda. hiya, sambil melintasi kota-kota masa silam, kuseru kata-kata paling tajam. kubisikkan lagu paling merdu: “tubuh digodam pulang jiwa ditebas terbang. oi”

ah, betapa ajaib siklus waktu. kutagih pagi dibayar petang. kuminta pulang diberi buang. dari kandang macan ke asem lama ke teluk tonkin ke nanking ke leipzig ke kanal-kanal amsterdam. tersuruk di rumah jompo bagai orang mabuk gadung. menunggu salju turun, memindai tahun mati.

pernah kuminta camar bersarang dan bertelur di atas tumpukan buku. menetas jadi lidah-lidah api. huruf-huruf terbakar. kata-kata mengaduh. bukan karena api tapi karena rindu. anak-bini berbiak di benak, seperti jamur kuping di kayu lapuk. mekar dalam suhu minus dua puluh. ribuan mil jauhnya, ribuan mil jauhnya, tapi dapat kudekap dalam sekejab. bisa kucium dalam sajak.

tapi sajakku jutaan bintang merah di bawah langit tanpa pintu. setiap malam melayang-meliuk-menukik, jatuh dan aus di pepucuk putri malu. serupa arah luku ditarik kerbau mabuk daun singkong sampo kuru. sajakku jejak kaki kaum tani yang menghadang buldoser selepas zuhur. racau pemabuk di tepi danau ketika panen tiba. sedang do'a, mantra merah tua itu, hanya batu penyusun dinding. tindih-menindih, saling jabat. makin tinggi makin pedih. Tuhan pergi dari puncak menara, ternyata.

kukenang turang. jalan turun-naik sepanjang medan-lubuk pakam. oi, kampung halaman, hanya bisa kukenang. bukankah tubuh dibikin dari tanah. tapi jiwa menampik bentuk di mula cipta. menolak rumah di ujung usia. jiwaku pergi ke mana suka. tidak ke kubur, bukan ke sorga atau neraka. mungkin ke planet paling jauh. asal ada kopi dan tembakau dan perempuan bermata biru dan bintang-bintang berekor putih.

mungkin aku akan pulang sebelum sebuah negeri tenggelam oleh kutuk Tuhan. tapi aku tak tahu negeri apa, pulang ke mana, Tuhan siapa. kugelar peta buta. telunjukku menunjuk seperti ke jantung seorang tiran, ke negeri impian: satria uzur dan putri cantik, baju zirah dan tombak kayu, kincir angin dan iblis hijau, seekor bagal kurus dan langit coklat tua. tembok-tembok hitam yang meruapkan bau gandum, menggemakan sepotong nyanyian orang gipsi:

“sepasang mata perempuan melarutkan hari-hari tuan dalam sekendi khamar. ngak ngik ngok…

seorang satria memburu sebilah pedang di malam-malam badai. tang ting tung…”

tak ada yang datang ke pondokku minggu dini hari itu. orang-orang masih tertidur di atas panggang musim dingin. mimpi musim panas, sebuah pulau menyala di lautan. aku terbangun di tahun yang baru tumbuh. tak ada ibadah minggu. hanya secangkir kopi dan puntung rokok, berserakan seperti prajurit kalah perah. aku berbenah dan menata ingatan seperti buku-buku di dalam rak. lalu kusepuh lidahku dengan haiku. “tidakkah aku tahu, bung, katak yang jatuh ke kolam menjelma lagu?”

aku dan tungganganku berjalan ke arah cahaya. kota-kota baru dibangkitkan. segalanya masih sangat muda…

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama