Aku pernah berdiri di persimpangan,
di antara buku-buku yang menuntut pemahaman
dan seseorang yang diam-diam
menetap di dalam pikiran.
Di satu sisi, ada cinta yang menawarkan rasa,
senyum sederhana yang membuat dunia berbeda.
Di sisi lain, ada mimpi yang harus kujaga,
masa depan yang tak ingin kusia-siakan begitu saja.
Kadang aku bertanya kepada malam,
mengapa hati dan pikiran tak selalu sejalan?
Ketika buku terbuka di hadapan,
justru wajahmu yang hadir dalam bayangan.
Aku ingin mencintaimu tanpa kehilangan arah,
merindukanmu tanpa membiarkan cita-cita menyerah.
Sebab bukankah cinta yang benar-benar indah
tak seharusnya membuat seseorang berhenti melangkah?
Maka biarlah aku belajar dalam diam,
menata masa depan sembari menyimpan namamu dalam ingatan.
Bukan karena cintaku tak cukup dalam,
melainkan ada impian yang harus lebih dahulu kugenggam.
Jika kelak waktu mempertemukan kita kembali,
aku ingin datang bukan sekadar membawa rindu,
melainkan juga membawa cerita tentang hari-hari
ketika aku tetap bertahan meski lelah memburu.
Namun, jika takdir memilih jalan yang berbeda,
biarlah kenangan menjadi bagian dari cerita.
Sebab aku belajar satu hal dari cinta:
tak semua yang kita inginkan harus kita miliki,
dan tak semua yang kita cintai harus membuat kita berhenti.
Kini aku memilih untuk terus melangkah,
meski sesekali hati masih ingin menoleh ke arahmu.
Ada masa depan yang harus kutuju,
ada diri yang harus kujaga agar tak kehilangan arah.
Tentang cinta, biarlah ia tumbuh tanpa memaksa.
Tentang belajar, biarlah ia menjadi jalan menuju dewasa.
Jika keduanya memang ditakdirkan bersama,
semoga kelak kita bertemu kembali,
bukan sebagai dua insan yang saling menunggu,
melainkan dua insan yang telah berdamai dengan dirinya sendiri.
Sumber: Puisi kiriman Areya Dwi Ramadani melalui email 31 Oktober 2026.
di antara buku-buku yang menuntut pemahaman
dan seseorang yang diam-diam
menetap di dalam pikiran.
Di satu sisi, ada cinta yang menawarkan rasa,
senyum sederhana yang membuat dunia berbeda.
Di sisi lain, ada mimpi yang harus kujaga,
masa depan yang tak ingin kusia-siakan begitu saja.
Kadang aku bertanya kepada malam,
mengapa hati dan pikiran tak selalu sejalan?
Ketika buku terbuka di hadapan,
justru wajahmu yang hadir dalam bayangan.
Aku ingin mencintaimu tanpa kehilangan arah,
merindukanmu tanpa membiarkan cita-cita menyerah.
Sebab bukankah cinta yang benar-benar indah
tak seharusnya membuat seseorang berhenti melangkah?
Maka biarlah aku belajar dalam diam,
menata masa depan sembari menyimpan namamu dalam ingatan.
Bukan karena cintaku tak cukup dalam,
melainkan ada impian yang harus lebih dahulu kugenggam.
Jika kelak waktu mempertemukan kita kembali,
aku ingin datang bukan sekadar membawa rindu,
melainkan juga membawa cerita tentang hari-hari
ketika aku tetap bertahan meski lelah memburu.
Namun, jika takdir memilih jalan yang berbeda,
biarlah kenangan menjadi bagian dari cerita.
Sebab aku belajar satu hal dari cinta:
tak semua yang kita inginkan harus kita miliki,
dan tak semua yang kita cintai harus membuat kita berhenti.
Kini aku memilih untuk terus melangkah,
meski sesekali hati masih ingin menoleh ke arahmu.
Ada masa depan yang harus kutuju,
ada diri yang harus kujaga agar tak kehilangan arah.
Tentang cinta, biarlah ia tumbuh tanpa memaksa.
Tentang belajar, biarlah ia menjadi jalan menuju dewasa.
Jika keduanya memang ditakdirkan bersama,
semoga kelak kita bertemu kembali,
bukan sebagai dua insan yang saling menunggu,
melainkan dua insan yang telah berdamai dengan dirinya sendiri.
Sumber: Puisi kiriman Areya Dwi Ramadani melalui email 31 Oktober 2026.
