Puisi Garis Batas Karya Anton Kurnia

Di sudut kota yang tak pernah terlupa
Di ruas tengah Braga nan tua dan renta
Di kafe usang, sunyi, waktu itu.

Ku duduk termenung di atas kursi kayu,
Sepotong es krim vanilla di mangkuk kaca
Putih nan lembut menggoda rasa
Namun di lidah pahit terasa.

Ibuku berkata dalam lirih,
Bahwa hidupnya akan beralih
Aku tak menangis
Namun hatiku luka, duka nan teriris
Seorang lelaki kan datang
Membawa kami ke kota sebrang.

Ayah telah pergi dan tak akan kembali
Kini hidup harus beralih
Walaupun terasa perih
Aku terpaksa berbagi kasih.

Ku telan es krim bersama lara
Perasaan tergores menusuk bagai belati
Sore cerah, langit membiru
Namun hanya jiwaku yg berseteru.

Saat itu, aku mulai mengerti
Patah hati tidak hanya sekedar kehilangan
Kadang yang tinggal bisa hilang
Dan hati mulai kosong yang tak terbilang.


Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Dukungan


Apakah Anda suka dengan karya-karya yang ada di narakata? Jika iya, Anda bisa memberi dukungan untuk narakata agar dapat tetap hidup dan update. Silakan klik tombol di bawah ini sesuai dengan nominal yang ingin Anda berikan. Sedikit atau banyaknya dukungan yang Anda berikan sangat berarti bagi kami. Terima kasih.

Nih buat jajan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama