Di sudut kota yang tak pernah terlupa
Di ruas tengah Braga nan tua dan renta
Di kafe usang, sunyi, waktu itu.
Ku duduk termenung di atas kursi kayu,
Sepotong es krim vanilla di mangkuk kaca
Putih nan lembut menggoda rasa
Namun di lidah pahit terasa.
Ibuku berkata dalam lirih,
Bahwa hidupnya akan beralih
Aku tak menangis
Namun hatiku luka, duka nan teriris
Seorang lelaki kan datang
Membawa kami ke kota sebrang.
Ayah telah pergi dan tak akan kembali
Kini hidup harus beralih
Walaupun terasa perih
Aku terpaksa berbagi kasih.
Ku telan es krim bersama lara
Perasaan tergores menusuk bagai belati
Sore cerah, langit membiru
Namun hanya jiwaku yg berseteru.
Saat itu, aku mulai mengerti
Patah hati tidak hanya sekedar kehilangan
Kadang yang tinggal bisa hilang
Dan hati mulai kosong yang tak terbilang.
Di ruas tengah Braga nan tua dan renta
Di kafe usang, sunyi, waktu itu.
Ku duduk termenung di atas kursi kayu,
Sepotong es krim vanilla di mangkuk kaca
Putih nan lembut menggoda rasa
Namun di lidah pahit terasa.
Ibuku berkata dalam lirih,
Bahwa hidupnya akan beralih
Aku tak menangis
Namun hatiku luka, duka nan teriris
Seorang lelaki kan datang
Membawa kami ke kota sebrang.
Ayah telah pergi dan tak akan kembali
Kini hidup harus beralih
Walaupun terasa perih
Aku terpaksa berbagi kasih.
Ku telan es krim bersama lara
Perasaan tergores menusuk bagai belati
Sore cerah, langit membiru
Namun hanya jiwaku yg berseteru.
Saat itu, aku mulai mengerti
Patah hati tidak hanya sekedar kehilangan
Kadang yang tinggal bisa hilang
Dan hati mulai kosong yang tak terbilang.
