Kemarin, bulan Juni telah turun hujan, pak Sapardi
Ia berhamburan turun, menghancurkan baru, hingga rinduku turut berlubang
Ia membasuh dengan kalap, hingga menyetubuhi rinduku yang piatu
Maha hebat riuh lembutnya, hingga dengannya aku masih mengulum harap
Kini ia menetap pada bau tanah yang menguar dari ingatan
Menggarami luka-luka yang sempat kukira telah tertidur
Ia mengusap nisan-nisan kecil di dadaku
Lalu menanam musim pada sepetak sepi yang lapang
Maha ganjil tabiatnya, hingga dengannya aku masih memelihara isyarat
Sumber: Puisi kiriman Anggi Mulazimatun Najah melalui email 21 Juni 2026.
Ia berhamburan turun, menghancurkan baru, hingga rinduku turut berlubang
Ia membasuh dengan kalap, hingga menyetubuhi rinduku yang piatu
Maha hebat riuh lembutnya, hingga dengannya aku masih mengulum harap
Kini ia menetap pada bau tanah yang menguar dari ingatan
Menggarami luka-luka yang sempat kukira telah tertidur
Ia mengusap nisan-nisan kecil di dadaku
Lalu menanam musim pada sepetak sepi yang lapang
Maha ganjil tabiatnya, hingga dengannya aku masih memelihara isyarat
Sumber: Puisi kiriman Anggi Mulazimatun Najah melalui email 21 Juni 2026.
