Taman bunga tak berseri,
Awan kelabu bersinar di langit,
Tetes air jatuh dari bunga layu,
Membasuh tanah dan bebatuan.
Setangkai mawar berwarna biru,
Bertumbuh jauh dari mawar merah,
Kegelapan yang mengintai kecerahan,
Dari jarak yang tak bernama,
Ia bertanya,
“Langit di sana sudah berbeda, bukan?”
Fajar di sana lebih cepat menyapa,
Bintang di sini masih menjaga.
Cahaya matahari di sana cerah,
Air rintik hujan di sini masih deras.
Ia tergugu dalam senyap,
Menanti hembusan angin sepoi-sepoi.
Ia teringat,
“Padahal, aku tak perlu menunggu seperti ini beberapa kemarau lalu.”
Tangkaiku yang menopang helaianmu,
Saat mahkota bungamu hendak gugur.
Saat kelopakmu hendak mengerut.
Kini, mawar merah bermekaran,
Tak lagi terpampang di taman ini.
Apakah mawar jingga dapat menancap di tanah sebelahmu?
Apakah daunnya dapat membungkus tangkaimu tanpa celah?
Sumber: Puisi kiriman Birgitta Jennifer Widjaja melalui email 6 Desember 2025.
Awan kelabu bersinar di langit,
Tetes air jatuh dari bunga layu,
Membasuh tanah dan bebatuan.
Setangkai mawar berwarna biru,
Bertumbuh jauh dari mawar merah,
Kegelapan yang mengintai kecerahan,
Dari jarak yang tak bernama,
Ia bertanya,
“Langit di sana sudah berbeda, bukan?”
Fajar di sana lebih cepat menyapa,
Bintang di sini masih menjaga.
Cahaya matahari di sana cerah,
Air rintik hujan di sini masih deras.
Ia tergugu dalam senyap,
Menanti hembusan angin sepoi-sepoi.
Ia teringat,
“Padahal, aku tak perlu menunggu seperti ini beberapa kemarau lalu.”
Tangkaiku yang menopang helaianmu,
Saat mahkota bungamu hendak gugur.
Saat kelopakmu hendak mengerut.
Kini, mawar merah bermekaran,
Tak lagi terpampang di taman ini.
Apakah mawar jingga dapat menancap di tanah sebelahmu?
Apakah daunnya dapat membungkus tangkaimu tanpa celah?
Sumber: Puisi kiriman Birgitta Jennifer Widjaja melalui email 6 Desember 2025.
