Takbir memecah malam, tapi sunyi menikam jantungku. Orang-orang menyebutnya lebaran. Aku menyebutnya kehilangan.
Di sudut kamar, sejadah tergulung dan tak ada yang membentangkannya lagi.
Di meja makan gelas masih dua, tapi kau tak akan kembali. Aku ingin berlari.. Berlari ke pelukan yang kini tak ada lagi.
Sujud di pangkuan yang kini telah menjadi tanah. Malam takbirku gugur diantara do'a-do'a.
Aku datang dengan takbir di bibirku. Tapi, suaraku tak bisa membangunkanmu. Aku membawa air mata, tapi tanahmu lebih dulu basah oleh rinduku.
Bagaimana aku bisa bersukacita? Jika bahagiaku telah terkubur di sisimu.
Di sudut kamar, sejadah tergulung dan tak ada yang membentangkannya lagi.
Di meja makan gelas masih dua, tapi kau tak akan kembali. Aku ingin berlari.. Berlari ke pelukan yang kini tak ada lagi.
Sujud di pangkuan yang kini telah menjadi tanah. Malam takbirku gugur diantara do'a-do'a.
Aku datang dengan takbir di bibirku. Tapi, suaraku tak bisa membangunkanmu. Aku membawa air mata, tapi tanahmu lebih dulu basah oleh rinduku.
Bagaimana aku bisa bersukacita? Jika bahagiaku telah terkubur di sisimu.
- Anonim
