Puisi Takbir Memecah Malam Karya Anonim

Takbir memecah malam, tapi sunyi menikam jantungku. Orang-orang menyebutnya lebaran. Aku menyebutnya kehilangan.

Di sudut kamar, sejadah tergulung dan tak ada yang membentangkannya lagi.
Di meja makan gelas masih dua, tapi kau tak akan kembali. Aku ingin berlari.. Berlari ke pelukan yang kini tak ada lagi.

Sujud di pangkuan yang kini telah menjadi tanah. Malam takbirku gugur diantara do'a-do'a.

Aku datang dengan takbir di bibirku. Tapi, suaraku tak bisa membangunkanmu. Aku membawa air mata, tapi tanahmu lebih dulu basah oleh rinduku.

Bagaimana aku bisa bersukacita? Jika bahagiaku telah terkubur di sisimu.


Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Dukungan


Apakah Anda suka dengan karya-karya yang ada di narakata? Jika iya, Anda bisa memberi dukungan untuk narakata agar dapat tetap hidup dan update. Silakan klik tombol di bawah ini sesuai dengan nominal yang ingin Anda berikan. Sedikit atau banyaknya dukungan yang Anda berikan sangat berarti bagi kami. Terima kasih.

Nih buat jajan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama