berjalan kita tak acuh dan tangan gemetar
kujangkau atap kusam di bawah bulan pudar
langit malam jadi lemas
kota tak lelap selarut ini
begitu sibuk entah apa saja kerjanya
dan aku telanjang dalam sorot mobil melintas
sepotong bumi menyata
kasar dan gemas
di sampingku letih kekasih teduhan duka
tapak yang haus dari cinta demi cinta
sini batu dan aspal
situ tembok-tembok kelabu oleh peredaran waktu
aku melihat asap dan debu karena cahaya dari jendela
sendirinya helai-helai daun gugur tak beri bekas apa-apa
tapi bagi yang gugur karena mencinca rakyatnya aku menuntut
dan kukatakan kepada kalian: ahoi, dengarkan ini!
kalian penguasa-penguasa tak-tahu-diri, tahulah akan kami
kalian yang sedang membusuk, mengertilah akan kebangkitan
kembali
abad-abad kami yang hilang tapi yang kini begitu remaja
betapa kasih membalik tanah mencairkan logam mendidihkan
air di dapur
kalian penguasa-penguasa tak-tahu-diri, tahulan akan kami
yang membelokkan sungai-sungai, membuat pulau-pulau rang-
kaian permai
bilang tanggung jawapmu di sini mengapa ada keringat tak
dibayar
mengapa siang begitu panjang padahal matahari sudah lama
tenggelam
mengapa ibu meranggul anaknya beratap langit dan bintang-
bintang
(langit, bulan, bintang -- apa itu semua bagi mereka!?)
kecutkah kami karena tak mau lihat darah tumpah sia-sia
tak betah bumi ditanduskan akan orang-orang sederhana yang
lari ketakutan ?
o, jika sepetak kaca jendela sampai retak -- demi kemer-
dekaan
betapa sukar menahan darah mengetok-ngetok nadi sendiri
sebab kesabaran hanya tinggal miliknya para nabi
sebab setumpak tanah berdebu ini akan dirombak jadi taman
rindang wangi
sebab sepotong bumi menyata: letih kekasih di sampingku
juga duka dunia
ya, tak disalahkan jika gelisah ini melanda
segumpal benak dan tangan yang dihentamkan
tak terduga dari mereka yang bekerja
tapi tak dapat apa-apa
aku tak ingin pisah
walau kutahu tak selalu bisa bersama
aku tak mau napas kehidupan tak sehangat yang kita rasakan
melintasi dinding tua sudut kota
simpak-simpak menyaksikan kemudaan hari
aku jadi percaya pada wajah sederhana pandang kesayangan
yang berbicara
daripada sekelumit napsu membakar tapi untuk dipadamkan
daripada dada terbaring dibayar lalu ditinggalkan
aku jadi percaya pada rambut yang dikibaskan tergerai me-
nyambar pipiku
bahwa cinta tidak hanya untuk diucapkan
bahwa bangsa-bangsa berdampingan seperti kau dan aku
seperti kita bertengkar dan berdebat merajuk dan berbujuk
bahwa gerbang-gerbang dibangunkan untuk mobil juga beca
bahwa kita kasihi seorang lenin bukan hanya karena pemimpin
tapi karena kehidupan, karena kita punya hati untuk berdebar
karena kita tidak menimang malam atau pagi atas pahit-manis
berlalunya hari
karena kita berjuang agar cinta tidak hanya diucapkan
begitu bahagia tersimpan melihat kau keluar dari bayangan
cerita tentang hari cerah yang membuat lampu-jalan menari
tapi juga: di ranjangnya anak kecil punya mimpinya sendiri
begitu harum melati meninggalkan pekarangan
atas kejatuhan hati yang tak dipinta
membuat kita melanjutkan langkah seenaknya
aku jadi cemburu
tapi juga gembira
pada deru merombak kerja
dan kita adalah peserta
(Asamlama, 7 Mei 1957)
Sumber: Yang Tak Terbungkamkan (1959).
kujangkau atap kusam di bawah bulan pudar
langit malam jadi lemas
kota tak lelap selarut ini
begitu sibuk entah apa saja kerjanya
dan aku telanjang dalam sorot mobil melintas
sepotong bumi menyata
kasar dan gemas
di sampingku letih kekasih teduhan duka
tapak yang haus dari cinta demi cinta
sini batu dan aspal
situ tembok-tembok kelabu oleh peredaran waktu
aku melihat asap dan debu karena cahaya dari jendela
sendirinya helai-helai daun gugur tak beri bekas apa-apa
tapi bagi yang gugur karena mencinca rakyatnya aku menuntut
dan kukatakan kepada kalian: ahoi, dengarkan ini!
kalian penguasa-penguasa tak-tahu-diri, tahulah akan kami
kalian yang sedang membusuk, mengertilah akan kebangkitan
kembali
abad-abad kami yang hilang tapi yang kini begitu remaja
betapa kasih membalik tanah mencairkan logam mendidihkan
air di dapur
kalian penguasa-penguasa tak-tahu-diri, tahulan akan kami
yang membelokkan sungai-sungai, membuat pulau-pulau rang-
kaian permai
bilang tanggung jawapmu di sini mengapa ada keringat tak
dibayar
mengapa siang begitu panjang padahal matahari sudah lama
tenggelam
mengapa ibu meranggul anaknya beratap langit dan bintang-
bintang
(langit, bulan, bintang -- apa itu semua bagi mereka!?)
kecutkah kami karena tak mau lihat darah tumpah sia-sia
tak betah bumi ditanduskan akan orang-orang sederhana yang
lari ketakutan ?
o, jika sepetak kaca jendela sampai retak -- demi kemer-
dekaan
betapa sukar menahan darah mengetok-ngetok nadi sendiri
sebab kesabaran hanya tinggal miliknya para nabi
sebab setumpak tanah berdebu ini akan dirombak jadi taman
rindang wangi
sebab sepotong bumi menyata: letih kekasih di sampingku
juga duka dunia
ya, tak disalahkan jika gelisah ini melanda
segumpal benak dan tangan yang dihentamkan
tak terduga dari mereka yang bekerja
tapi tak dapat apa-apa
aku tak ingin pisah
walau kutahu tak selalu bisa bersama
aku tak mau napas kehidupan tak sehangat yang kita rasakan
melintasi dinding tua sudut kota
simpak-simpak menyaksikan kemudaan hari
aku jadi percaya pada wajah sederhana pandang kesayangan
yang berbicara
daripada sekelumit napsu membakar tapi untuk dipadamkan
daripada dada terbaring dibayar lalu ditinggalkan
aku jadi percaya pada rambut yang dikibaskan tergerai me-
nyambar pipiku
bahwa cinta tidak hanya untuk diucapkan
bahwa bangsa-bangsa berdampingan seperti kau dan aku
seperti kita bertengkar dan berdebat merajuk dan berbujuk
bahwa gerbang-gerbang dibangunkan untuk mobil juga beca
bahwa kita kasihi seorang lenin bukan hanya karena pemimpin
tapi karena kehidupan, karena kita punya hati untuk berdebar
karena kita tidak menimang malam atau pagi atas pahit-manis
berlalunya hari
karena kita berjuang agar cinta tidak hanya diucapkan
begitu bahagia tersimpan melihat kau keluar dari bayangan
cerita tentang hari cerah yang membuat lampu-jalan menari
tapi juga: di ranjangnya anak kecil punya mimpinya sendiri
begitu harum melati meninggalkan pekarangan
atas kejatuhan hati yang tak dipinta
membuat kita melanjutkan langkah seenaknya
aku jadi cemburu
tapi juga gembira
pada deru merombak kerja
dan kita adalah peserta
(Asamlama, 7 Mei 1957)
Sumber: Yang Tak Terbungkamkan (1959).
