Puisi Saat Hujan Karya Tere Liye

Berteriaklah di depan air terjun tinggi,
debam suaranya memekakkan telinga
agar tidak ada yang tahu kau sedang berteriak.

Berlarilah di tengah padang ilalang tinggi,
pucuk-pucuknya lebih tinggi dari kepala
agar tidak ada yang tahu kau sedang berlari.

Termenunglah di tengah senyapnya pagi,
yang kicau burung pun hilang entah ke mana
agar tidak ada yang tahu kau sedang termangu.

Dan, menangislah saat hujan,
ketika air membasuh wajah
agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan.

Perasaan adalah perasaan.
Tidak kita bagikan, dia tetap perasaan.
Tidak kita sampaikan, ceritakan, dia tetap perasaan.
Tidak berkurang satu helai pun nilainya.
Tidak hilang satu daun pun dari tangkainya.

Perasaan adalah perasaan,
Hidup bersamanya bukan kemalangan.
Hei, bukankah dia memberikan kesadaran
betapa indahnya duni ini?
Hanya orang-orang terbaiklah yang akan menerima kabar baik.
Hanya orang-orang bersabarlah yang akan menerima hadiah indah.

Maka nasihat lama itu benar sekali,

Menangislah saat hujan,
ketika air membasuh wajah
agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan.

Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Traktir


Anda suka dengan karya-karya di web Narakata? Jika iya, maka Anda bisa ikut berdonasi untuk membantu pengembangan web Narakata ini agar tetap hidup dan update. Silakan klik tombol traktir di bawah ini sesuai nilai donasi Anda. Terima kasih.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama