Puisi Langit Senja di Bulan September Karya Rafael Yanuar

Matahari sudah condong ke barat
perlahan-lahan mulai terbenam.
Aku berdiri di pinggir jembatan. Sendirian.
Di balik bukit, awan menari —
kabut-kabut menuruni lembah
— angin kecil menyentuh bentangan sawah.
Aku terhanyut, bagaimana senja dapat
menyandingkan rindu dan semesta, teramat mesra.

Tiba-tiba aku ingin bulan muncul
dan kita bisa bersama di malam purnama,
lantas terpukau
menatap indah langit di bulan September.
Aku tahu selembar tangis pernah
terpecah di satu hari lahir
Ketika kebahagiaan begitu lanut melingkupi semesta.

Di tepian cakrawala, aku pun termenung.
Pada sebuah doa
kita memandang indahnya perjalanan.
Di sanalah aku bertemu dan mengabadikan
perjumpaan denganmu.

Maka biar kutitipkan senjaku pada bunga padma
lewat baris-baris sajak
sebagai doa-doa sederhana
sebab aku tak pandai berkata banyak.

Aku hanya ingin
menenteramkan senyum dan air mata
dan melihatmu bahagia.
Senantiasa.

Senja sudah terbenam malam meninggi
aku beranjak pulang, berharap bisa menulis
sajak tentang langit di bulan September
: tentang rindu
dan kamu.



Sumber: Wordpress 2011.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama