Puisi Elegi Hemostasis Karya Wira Nagara

Terkadang tangis tak selalu mengurai luka, ia juga mengisyaratkan bahagia dalam derai air mata.
Seperti saat ini, kala kau hadir di tenagh-tengah sepi.
Menegaskan bahwa tak bisa melupakanmu, bukan berarti aku tak bisa menemukan cinta yang baru.
Sebab rinduku ini bagaikan pualam, aku harus membiasakan ia tergesek beragam rasa agar tetap berkilau tak seragam.
Agar hati tak berubah menjadi jeruji, tanpa warna yang bergantian menghiasi.

Cinta, hadirmu ada, menyajikan suatu karunia..
Ya.. aku jatuh cinta, kelip bintang dan terang bulan terasa biasa.
Entahlah, mungkin mereka kalah meriah oleh hatiku yang kian merekah.
Keluar dari peparumu yang mengimpit sesak, menyapu debu-debu masa lalu yang hinggap di sudut riak.
Mendorongnya hingga kerongkongan, membereskan sia janjimu yang masih menempel di perasaan.

Cuh... ludah itu untukmu, dan semua masa laluku.
Melawan arus rindu yang biasanya, mengalahkan keinginan untuk mencintaimu selamanya.
Menggedor beribu pintu, menawarkan cinta yang baru.
Bersiap untuk berjuta kenyamanan yang hadir saat dipersilahkan, berpeluk kembali pada setiap kecewa saat penolakan.

Tak masalah..
Bagiku itu lebih terpuji daripada harus hidup dihatimu lagi.
Sebab kini malamku, bukan lagi tentang kamu...

Singgah.. ke tiap hati dengan semangat yang membuncah.
Mencari yang paling tepat, kadang terlalu jauh mencari hingga melupa hati yang paling dekat.
Menyusuri ruang penasaran terbaik, berpasrah akan kembalinya perasaan yang di bolak-balik.
Berputar hebat merotasi waktu, sebab telah datang pesona gugup menunggu akan hadir sebuah temu.
Memberi kejutan yang menyenangkan, memberi pelukan yang menenangkan.
Mengakhiri dengan kecup, menegaskan masa lalu yang telah ku tutup.

Sampai..
Menetap dengan indah.
Pada satu hati, pada satu cinta yang mendiami.
Setia pada pilihan, walau jauh darri kesempurnaan.
Sebab bahagia itu diciptaka bukan ditemukan.
Bertanggung jawab secara adil, pada setiap keping hatinya yang aku ambil.
Bertanggung jawab secara penuh, menjaga hubungan agar tetap utuh.
Menjadi satu-satunya alasan cinta yang jatuh, tanpa meminta harapan lain yang harus runtuh.
Menjagamu, agar tetap utuh dipelukanku, hingga terlepas oleh kehendak waktu.
Karna kini kamu adalah kamu, bukan lagi tentang dia..

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama