Cerpen Perempuan Bernama N Karya Hermawan Aksan

"Kau janji akan bercerita tentang sebuah kisah cinta. Ah, kisah cinta sudah begitu banyak diceritakan orang. Ceritakanlah. Aku tak pernah bosan membaca kisah cinta."

Baiklah. Mungkin ini akan menjadi bahan cerita pendekku. Aku ingin bercerita tentang seorang tokoh wanita. Tapi tak perlulah kau tahu nama lengkapnya, ya. Aku memang sengaja menyebutnya begitu, demi privasinya. Kalau aku menyebut inisialnya yang benar, bukan tak mungkin rahasianya akan terbongkar. Bisa saja namanya berhuruf awal A atau S. Aku pilih N karena perempuan kita banyak sekali yang namanya berhuruf awal N. Bukankah kita mengenal nama Nani, Nina, Neneng, Novi, dan yang seperti itu? Tapi aku juga memilih N karena bisa menjadi singkatan no name, bukan siapa-siapa, atau bisa siapa saja. Kalau aku memilih huruf Z, misalnya, tentu akan lekas ketahuan karena nama yang berawal huruf Z sangat sedikit. Aku tak mau memilih huruf P karena kok kesannya negatif atau apalah. Dia perempuan biasa-biasa saja, pada mulanya. Maksudku, dia bukan perempuan yang dalam pandangan pertama membuat lelaki jatuh cinta kalau kau masih percaya ada cinta pada pandangan pertama atau yang seperti itu. Dia perempuan yang sederhana, sungguh. Pakaiannya sederhana. Aku memang tak paham tentang macam-macam harga busana, tapi aku yakin bajunya sederhana. Dia suka mengenakan celana jins dan baju kaus lengan panjang. Tapi model celananya bukanlah model yang memberikan kesempatan bagi sebagian pinggang bawah untuk menyembul menyambut tatapan tak senonoh lelaki. Rambutnya selalu dibiarkan tergerai hingga melewati bahu dan ada warna sedikit kemerahan di sana.

Aku sangat menyukai rambutnya. Sedikit warna merah itu memberikan semacam kesan eksotis. Apa pun artinya itu. Nah, lelaki itu ‘biarkan aku tak memberinya nama’ mengenal si perempuan pada sebuah acara diskusi buku di CCF, pusat kebudayaan Prancis, Jalan Purnawarman, ketika di luar turun gerimis yang membasah. Ia tidak dengan sengaja berkenalan, atau yang seperti itu. Lelaki itu bukan macam lelaki yang senang menggoda perempuan, atau bisa dengan segera memikat lawan jenisnya, atau apalah. Mereka kebetulan saja duduk bersebelahan di barisan paling belakang. Namun, apakah benar-benar sebuah kebetulan, entahlah. Mungkin Tuhan sudah mengatur semua sisi kehidupan sampai sekecil-kecilnya sehingga ketika lelaki itu duduk, di sebelahnya sudah duduk seorang perempuan. Waktu itu berlangsung diskusi buku karya Andrea Hirata. Sebuah novel baru oleh pengarang baru yang menggemparkan. Kontroversial, sekaligus laris di pasaran. Pembicaranya adalah dua orang kritikus yang tak asing lagi di jagat sastra kita: Jakob Sumardjo, mewakili generasi senior, dan Hawe Setiawan, mewakili generasi (yang lebih) muda. Moderatornya adalah perempuan pengarang yang cantik dengan rambut yang selalu berkerudung anggun, Nenden Lilis Aisyah. Tidak seperti diskusi-diskusi buku selama ini, diskusi buku yang satu ini dipadati pengunjung. Aneh juga. Biasanya diskusi buku apa pun ‘bahkan buku hebat macam The Name of the Rose karya Umberto Eco’ hanya dihadiri tak lebih dua puluh orang. Kali ini pengunjung banyak yang sampai berdiri. Kursi yang berjumlah lebih dari seratus semuanya terisi. Mungkin karena di sana berkumpul juga para dewa sastra yang selama ini memenuhi halaman-halaman media massa situs-situs sastra. Sebutlah nama yang ada di kepalamu, semuanya ada di sana. Kurnia Effendi, Sapardi Djoko Damono, Nirwan Dewanto, Soni Farid Maulana, Akmal Nasery Basral, Eka Kurniawan, Aam Amilia, Tetet Cahyati, Senny Alwasilah, Lan Fang, Endah Sulwesi, Hernadi Tanzil, dan sebagainya. Karena lelaki itu bukanlah siapa-siapa, melainkan seorang penulis yang sedang-sedang saja, ia lebih suka duduk di deretan belakang. Namun, ternyata ia bersebelahan dengan perempuan yang bukan sembarangan. Ia yakin usia perempuan itu sudah lewat empat puluh. Paling tidak mendekati. Lima atau enam tahun lebih tua darinya, kira-kira. Namun, sekilas perempuan itu kelihatan beberapa tahun lebih muda. Entah apakah dia memang awet muda, entah karena penerangan di gedung CCF tak bisa membuat wajahnya tampak jelas. Keremangan memang selalu menyamarkan garis-garis usia. Ia langsung mengenal si perempuan karena, sekali lagi kukatakan, dia bukan perempuan biasa. Dia penulis terkenal dan si lelaki, yang juga penggemar buku, sudah membaca beberapa bukunya. Juga beberapa cerita pendeknya yang kerap menghiasi halaman-halaman budaya media massa.
"Saya suka karya-karya Mbak N," kata lelaki itu.

"O ya? Terima kasih sudah mau baca. Apa yang kau suka?"

"Cerita-cerita yang Mbak bikin selalu berkisah tentang indahnya cinta dari sudut yang tak terduga."

"Ah, kamu mengada-ada. Karyaku belum apa-apa, bahkan dibanding pengarang baru macam Andrea."

"Mbak suka karya Andrea?"

"Dia memang mengagumkan. Setidaknya kalau dilihat bahwa ini buku pertamanya. Juga kalau pengakuannya benar bahwa ia sebelumnya tak pernah menulis apa pun, bahkan cerita pendek."

"Tapi kata orang buku ini kontroversial."

"Ya, ada sejumlah data dan deskripsi yang tak masuk akal, terutama karena si pengarang menyebut novelnya sebagai sebuah memoar berdasarkan kisah nyata."

Si lelaki dan perempuan berinisial N itu kemudian saling bertukar nomor telepon seluler. Kau tahu, seperti hasil kemajuan teknologi macam apa pun, ponsel memang seperti pisau bermata ganda. Ponsel memberi kita dua macam kemudahan: untuk berbuat baik dan berbuat tidak baik. Lewat pesan singkat, N dan lelaki itu kerap berdiskusi tentang sastra, tentang buku, tentang pergelaran seni. Tapi kemudian isi pesan bergeser ke arah yang lebih pribadi.

"Boleh saya undang Mbak ktmu di Potluck? Di sana kita bisa diskusi banyak tentang sastra. Di SMS rassnya terlalu terbatas."

"Kenapa tidak?"

Lalu keduanya bertemu di kafe yang sekaligus perpustakaan itu. Si lelaki memesan espresso dan si perempuan cukup capuccino. Tak kurang dari tiga jam mereka bercakap-cakap di sudut dekat jendela kaca. Mereka bercakap-cakap tentang buku yang tengah mereka baca. Kebetulan, keduanya sama-sama tengah membaca Snow Flower karya Lisa See.

"Buku yang luar biasa. Untung di sini tak pernah ada tradisi mengecilkan kaki seperti itu," kata si perempuan berinisial N.

"Saya nyaris tak bisa melanjutkan baca. Ngeri membayangkannya," timpal si lelaki.

Pada kesempatan lain, keduanya bertemu di BMC, Jalan Aceh. Kali ini, entah siapa yang memulai, si lelaki berani memegang jemari N. Mengelus-elusnya. Pada saat-saat berikutnya, mereka bertemu di Dakken, CCF, RM Ikan Bakar, dan lain-lain. Sesuatu tumbuh di dada si lelaki. Sebuah perasaan yang telah lama hilang. Maksudku, telah lama tak dirasakannya. Ia selalu mengingat perempuan berinisial N itu, setiap saat, setiap bangun tidur, tiap berangkat ke kantor, tiap menjelang tidur, bahkan ia seperti selalu ingat meski dalam mimpi.

"Saya seperti remaja lagi."

"Aku juga."

"Mungkin saya jatuh cinta."

"Jadi."

"kata orang, jatuh cinta bisa membuat kita produktif berkarya."

"Ketika jatuh cinta, tercipta karya-karya sastra."

"Saya ingin jatuh cinta tiap hari."

"Jatuh cintalah."

"Saya jatuh cinta tiap hari padamu."

"Jadi."

Dan begitulah, si lelaki menjadi banyak menciptakan karya baru. Meski pemicunya adalah rasa jatuh cinta, karyanya tidak mendayu-dayu. Sebab, ia sebenarnya memiliki bakat yang memadai untuk menjadi penulis yang baik. Namun, hubungan mereka tidak bisa abadi seperti dalam syair-syair. Entah siapa yang memulai, mereka makin lama makin jarang mengirim SMS, dan tentu saja kian jarang bertemu. Apa alasannya, entahlah, sebab tak ada hubungannya dengan sebuah peristiwa penting, misalnya tepergok oleh suami perempuan berinisial N itu. Yang pasti, hubungan mereka baik-baik saja. Kadang-kadang mereka masih bertemu secara tak sengaja, misalnya dalam sebuah diskusi. Biasanya, mereka duduk berdekatan, tetap berbincang akrab, dan masih senang berpegangan tangan. Apakah keduanya kemudian tak produktif lagi? Ternyata, keduanya masih tetap menghasilkan karya kreatif yang baru.

"Kau masih jatuh cinta?"

"Apakah itu penting?"

"Jadi"

“Nah, begitulah kisahku tentang cinta.”

"Aku bisa menebak siapa perempuan itu."

"Benarkah?"

"Siapa lagi perempuan penulis terkenal berambut kemerahan berinisial N?"

"Tapi dia belum tentu berinisial N."

"Dia berinisial N," katanya dengan bibir bergetar. Aku menatap istriku. Matanya basah.

"Bukankah itu sebuah pengakuan selingkuh? Bukankah lelaki itu adalah kau?"

"Sayang, itu tadi hanyalah sebuah cerita pendek."

Dia menggeleng. Air matanya menderas.

***

Bandung, Maret 2007

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama