Cerpen Lantas Bagaimana Karya Aulia Khotimatun Nisa

Hiruk-pikuk suara memenuhi ruangan yang semakin malam akan semakin ramai, aneh.

Kafe kecil dengan nuansa aroma kopi yang menyeruak itu sudah seperti tempat singgah tetap bagi Keisya, mahasiswa semester akhir yang belakangan ini lebih sering pulang larut malam karena disibukkan dengan skripsinya.

Di sudut ruangan itu, ia duduk sendiri. Laptop di hadapannya terbuka, menampilkan file skripsi yang sejak tadi hanya menjadi objek pandangan. Jam di pojok kanan bawah pada laptop menunjukkan pukul 22.40, tetapi belum ada satu kata pun yang ia ketik setelah duduk selama satu jam di kursi ini.

Di meja bundar yang ia tempati, ada segelas kopi americano yang sudah kehilangan hangatnya. Uapnya hilang lebih cepat, persis seperti semangat yang sebelumnya ia miliki. Tumpukan buku yang berada tepat di samping segelas kopi pun belum tersentuh sama sekali.

Matanya hanya menatap layar dengan pandangan kosong. Suara berisik di sekelilingnya
seperti teredam dengan sendirinya. Tawa, obrolan, semuanya terdengar jauh, seperti tidak
benar-benar terjadi di ruang yang sama dengannya.

Perlahan, pandangannya berpindah menatap jendela, mengarah ke jalan raya yang masih hidup. Lampu kendaraan yang berlalu-lalang seolah semakin menghidupkan malam, seakan semua pengemudi mengetahui ke mana arah tujuan mereka.

Berbeda dengan isi hatinya.

“Setelah semua ini selesai, apa aku harus merelakan impianku lagi?” batinnya.

Pertanyaan itu melintas pelan dalam pikirannya, tapi cukup menyesakkan.

Keisya menghela nafas panjang. Tangannya akhirnya bergerak, jemarinya mulai menari lihai di atas keyboard dengan ritme yang terlihat meyakinkan. Siapapun yang melihatnya mengetik saat itu pasti akan mengira ia seseorang yang amat fokus, tekun dan mengetahui apa yang harus dilakukannya. Padahal yang Keisya sadari, apa yang saat ini ia jalani bukanlah hal yang ia inginkan, melainkan memang kebiasaan yang sudah berulang.

Sesekali ia berhenti, menatap layar sejenak, memastikan bahwa pikirannya masih tertuju pada penulisan skripsi, kemudian melanjutkan kembali.

Satu per satu paragrafnya tersusun. Tidak perlu waktu lama untuk Keisya menyelesaikan dari bagian skripsi yang dibuatnya. Seharusnya ia merasa lega, namun yang datang nyatanya hanya kehampaan yang kian jelas, seperti menyelesaikan sesuatu yang tidak benar-benar ia mulai.

Keisya mematikan laptopnya dan menutupnya perlahan. Tangannya bergerak merapikan tumpukkan buku di atas meja dan memasukkan ke dalam tas ransel yang berada di samping kursi yang ia duduki.

Ia berdiri, menggendong tas ranselnya, lalu melangkah keluar. Keisya melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 00.03, langkah kakinya menuju mobilnya yang berada di parkiran terdekat. Namun, langkahnya sama sekali tidak mengarah untuk pulang ke rumahnya.

Mobilnya melaju perlahan, membelah langit malam. Kendaraan semakin berkurang dan jalan yang ia telusuri mulai terasa sunyi. Tapi pikirannya justru semakin bising.

Lagu Berakhir di aku – Idgitaf berputar pelan dalam mobilnya.

“Ditekan dari segala sisi, Seringkali hilang arti

Aku hidup untuk siapa?..”

Ia tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.

Berapa kali ia merasakan selesai, namun seperti tidak pernah memulai.

Berapa kali ia harus menguatkan dirinya sendiri untuk terus berjalan pada suatu hal yang bukan ia inginkan?

Tangannya menggenggam stir lebih erat. Tanpa sadar, hatinya mulai tergerak untuk pulang ke rumahnya.

Lampu mobilnya menyinari halaman depan gerbang rumahnya yang masih tertutup, lalu perlahan terbuka.

“Baru pulang, Non? Tumben larut malam,” tanya Pak Sarto, satpam di rumahnya.

“Iya, Pak,” jawabnya singkat disertai senyum yang sopan.

Langkahnya tidak berhenti. Memang tidak berniat menjelaskan apapun, karena ia sendiri tidak benar-benar mengerti apa yang dirasakannya. Sampai di teras rumahnya, ia melepaskan sepatunya. Ia melangkah pelan menuju pintu kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika suara ibunya terdengar dari ruang makan.

“Kamu baru pulang?”

“Iya, Ma,” jawab Keisya singkat.

Ibunya duduk di kursi meja makan, masih dengan setelan kantornya. Wajahnya terlihat lelah, tapi tatapannya tetap tegas.

“Duduk dulu, Mama mau bicara sama kamu.”

Keisya menarik kursi meja makan di samping ibunya.

“Ada apa, Ma?”

Ibunya menarik napas dan menatap sebentar pada Keisya di sampingnya, kemudian matanya melihat ke arah depan,

“Kapan kamu sidang?”

“Lusa, Ma.”

“Bagus, setelah itu langsung masuk perusahaan teman Papamu.”

Kalimat itu terdengar mudah diucapkan, seolah keputusan sudah dibuat sejak lama tanpa perlu persetujuannya.

Keisya terdiam sejenak, “Ma..” suaranya terdengar pelan.

“Apa? Kamu mau berikan bantahan?”

Hening sejenak, tatapan ibunya mulai berubah ke arahnya.

“Aku belum siap langsung kerja ke perusahaan teman Papa, Ma.”

“Apa maksud kamu?”

Keisya tidak berani menatap mata ibunya, ia menunduk sebentar dan menjawab dengan nada
suara yang masih ragu.

“Aku mau coba cari jalanku sendiri setelah lulus nanti, boleh ya, Ma?” ucapnya ragu.

Ibunya tersenyum tipis, bukan dengan senyuman yang hangat. Tapi seperti senyuman yang terlihat menahan sesuatu.

“Apa kamu bilang? Mau coba cari jalan sendiri?” suaranya tiba-tiba meninggi, matanya menatap tajam ke arah Keisya yang tepat berada di sampingnya.

“Semua hal yang kamu capai sampai saat ini kamu kira karena siapa kalau bukan Papa dan Mamamu?,” lanjutnya sambil melihat ke arah lemari yang terdapat banyak piala, sertifikat dan medali yang tersusun rapi di dalamnya.

Keisya meremas kuat genggaman tangannya yang berada di bawah meja. Sejenak dadanya terasa sesak. Kalimat yang ibunya lontarkan seperti berulang di kepalanya “-karena Papa dan Mama”. Ia tahu kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar.

“Aku tahu, Ma..” ucapnya pelan, hampir seperti suara bisikan. “Aku tahu, semua ini karena Papa dan Mama. Aku nggak pernah lupa itu.”

Ibunya terdiam, tapi sorot matanya belum juga melunak.

Keisya menarik nafas perlahan, mencoba untuk menenangkan gejolak di dadanya yang bergemuruh sejak tadi. Untuk pertama kalinya, Keisya memberanikan diri untuk bicara hal yang sebenarnya kepada Ibunya.

“Ma, tapi..” ucapannya masih menggantung, “tapi apa semua yang Keisya jalanin harus selalu
mengikuti kemauan Mama dan Papa? Keisya gak diizinkan untuk menentukan jalan yang
Keisya mau ya, Ma?” lanjutnya dengan nada bicara yang tenang.

Ruang makan itu kembali hening, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang semakin jelas terdengar.

“Aku capek kalau harus selalu mengikuti kemauan Mama dan Papa,” lanjutnya dengan jujur.

“Bukan perihal aku capek kerjain skripsi, atau capek belajarnya, Ma. Aku capek karena jalan
di atas sesuatu yang bukan aku inginkan.”

Ibunya menghela nafas panjang, tangannya bersedekap di depan dada dan badannya ia sandarkan ke kursi, bersama dengan raut wajahnya bercampur dengan sesuatu yang tidak bisa ditebak. Entah marah, kecewa, atau mungkin ada khawatir.

“Kamu pikir Mama dan Papa atur semua jalan hidup kamu tanpa alasan?” ucapnya dengan nada sedikit lebih lembut dari sebelumnya. “Dunia makin ke sini makin keras buat orang yang gak bisa apa-apa Key, apalagi dunia kerja itu gak semudah yang ada dalam pikiran kamu. Mama dan Papa cuma gak mau kamu susah.”

“Aku ngerti, Ma,” jawab Keisya. “Aku juga bukan berarti langsung nolak mentah-mentah semua saran Mama dan Papa. Aku cuma ngerasa perlu waktu untuk coba jalan di atas pilihan aku sendiri.”

Ibunya menatapnya lagi, kali ini lebih dalam. Tak ada lagi nada tinggi untuk menjawab, hanya
tatapan yang mencoba untuk mencari keseriusan dari ucapan anaknya.

“Apa maksud kamu?”

Keisya menelan ludah, menegakkan badannya lalu berkata dengan perlahan, “Aku akan tetap coba kerja di perusahaan yang Mama maksud, tapi bukan sekarang, Ma. Tolong kasih aku waktu untuk coba cari jalan ku sendiri.”

“Berapa lama?”

“Enam bulan, Ma.” ucapnya berhati-hati.

Ibunya mengernyit.

“Enam bulan?” ulangnya.

“Iya, Ma.” Keisya mengangguk mantap. “Enam bulan cukup untuk aku cari pengalaman sendiri. Kalau dalam waktu enam bulan nanti aku memang gagal, aku akan ikut kemauan Mama dan Papa lagi, tanpa bantahan.”

Kalimat itu keluar dari mulut Keisya dengan sadar. Nada dengan penuh keyakinan, dan bukan sekedar keluar sebab emosional.

Ibunya tidak langsung menanggapi ucapan Keisya, ia berdiri dari kursi seperti tergesa untuk meninggalkan anaknya.

“Apa yang mau kamu lakukan dalam waktu enam bulan itu? Kamu sudah ada tujuan jelas?” tanya ibunya.

“Aku mau coba daftar pekerjaan di bidang yang aku minati, mungkin emang gak bisa langsung besar dan berhasil. Tapi aku mau tahu rasanya berjuang mendapatkan pilihanku, Ma.”

Ruang itu kembali sunyi. Tapi sunyi kali ini bukan mencekam, justru seperti memberikan ruang untuk masing-masing antara Keisya dan Ibunya.

Beberapa detik ibunya memejamkan mata, dan membuka matanya kembali.

“Enam bulan, ya,” Ibunya kembali mengulang kalimat itu.

Keisya sudah menatap ibunya dengan penuh harap, berharap Ibunya setuju akan pilihan yang ia buat.

“Jangan datang ke Mama dan Papamu dengan alasan kamu sudah menyerah sebelum waktu enam bulan itu habis,” lanjutnya. “Kalau kamu sudah memutuskan untuk cari jalanmu sendiri, maka kamu juga harus bertanggung jawab dengan pilihan yang kamu buat.”

Mata Keisya sedikit membesar saat mendengar ucapan Ibunya, ia bukan takut. Tapi karena ada celah dari hati Ibunya yang akhirnya terbuka.

“Iya, Ma.” jawabnya cepat dengan suara yang bergetar. “Aku akan bertanggung jawab penuh
dengan pilihan yang aku buat,” lanjutnya dengan intonasi yang sangat yakin.

Ibunya mengangguk kecil dan pergi meninggalkan Keisya sendiri di ruang makan. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kalimat hangat sebagai penutup. Tapi untuk pertama kalinya, Ibunya tidak menolak keputusan yang ia buat. Dan Keisya rasa itu sudah lebih dari cukup.

Malam itu, Keisya kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ke arah luar jendelanya yang belum ditutup tirai. Kemudian matanya beralih ke atas meja belajar yang mendapati laptopnya masih dalam keadaan mati.

Perlahan ia berjalan ke arah meja belajar, duduk dan menyalakan laptopnya. Bukan lagi dengan rasa hampa, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Gejolak rasa memulai untuk membuka hal baru, yang selama ini ia inginkan.

Pertanyaan dalam pikirannya yang selama ini selalu bergumam, “lantas, bagaimana?” kini
sudah terjawab. Kali ini, ia diizinkan untuk memilih jalannya sendiri. Ia sangat siap melangkah dan menyusuri jalan yang ia impikan. Bukan karena terbiasa, tapi kali ini karena ia bisa memilih.
_____


Sumber: Cerpen kiriman Aulia Khotimatun Nisa melalui email 25 Juni 2026.
Surya Adhi

Seorang yang sedang mencari bekal untuk pulang.

Dukungan


Apakah Anda suka dengan karya-karya yang ada di narakata? Jika iya, Anda bisa memberi dukungan untuk narakata agar dapat tetap hidup dan update. Silakan klik tombol di bawah ini sesuai dengan nominal yang ingin Anda berikan. Sedikit atau banyaknya dukungan yang Anda berikan sangat berarti bagi kami. Terima kasih.

Nih buat jajan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama