Senja datang perlahan, seperti seseorang yang ragu mengetuk pintu rumah yang telah lama ditinggalkan. Langit membentang dalam warna jingga yang perlahan larut di cakrawala. Di sebuah bangku kayu di tepi jalan desa, menghadap hamparan sawah yang mulai menggelap, seorang lelaki tua duduk
membisu—seolah menjadi bagian dari senja itu sendiri.
Namanya Pak Yono.
Warga desa menjulukinya penunggu senja. Bukan semata karena usianya yang renta, melainkan karena
kesetiaannya pada bangku kayu itu setiap sore. Ia menatap matahari tenggelam tanpa sepatah kata, tanpa keluhan, seakan diam adalah satu-satunya bahasa yang tersisa baginya.
Anak-anak desa kerap menjadikan Pak Yono sebagai bahan taruhan kecil. Siapa yang bisa membuatnya
berbicara akan dianggap menang. Mereka mencoba segalanya—melontarkan lelucon, menyapa dengan
riang, bahkan mengarang cerita lucu. Namun usaha itu selalu kandas. Pak Yono hanya menoleh sekilas,
tersenyum tipis, lalu kembali tenggelam dalam diam yang tak terjamah.
Tak seorang pun benar-benar tahu kisah hidupnya. Namun desas-desus yang beredar mengatakan bahwa
istrinya meninggal pada suatu senja, saat Pak Yono tengah bekerja di luar kota. Sejak hari itu, senja
menjadi waktu yang tak pernah ia tinggalkan. Ia menunggu, seolah senja menyimpan kemungkinan untuk mengembalikan sesuatu yang telah direnggut darinya.
Suatu hari, seorang gadis dari kota datang ke desa itu untuk menjalani program pengabdian kampus.
Namanya Lyra. Dari obrolan dengan warga, ia mendengar kisah Pak Yono. Alih-alih menganggap lelaki
tua itu aneh, Lyra justru melihat keheningannya sebagai sebuah bahasa—bahasa yang tak semua orang
mampu memahami.
Sejak saat itu, Lyra mulai duduk di bangku kayu tersebut setiap sore. Awalnya ia ikut terdiam. Lalu perlahan, ia mulai bercerita—tentang keluarganya yang sibuk, tentang ibunya yang selalu kehabisan waktu, bahkan untuk sekadar menatap senja bersama.
Pada minggu ketiga, Lyra datang dengan mata sembab. Sebuah telepon dari rumah membawa kabar
bahwa ayahnya terserang serangan jantung mendadak. Di tengah ceritanya yang terputus-putus, Pak Yono akhirnya membuka suara.
“Sakit sering datang,” katanya pelan, “saat kita terlalu jarang pulang.”
Itulah kalimat pertama yang Lyra dengar darinya. Suaranya serak, seperti pintu tua berkarat yang lama tertutup, menyimpan rahasia di baliknya.
Keesokan harinya, Lyra kembali ke bangku kayu itu dengan dua gelas minuman. Senja turun perlahan.
“Apakah Bapak selalu duduk di sini sendirian?” tanyanya hati-hati.
Pak Yono menatap langit yang mulai meredup.
“Dulu tidak. Sekarang pun tidak.”
Lyra menoleh ke sekeliling. “Tidak ada siapa-siapa di sini, Pak.”
“Kau memang tak bisa melihatnya,” jawab Pak Yono. “Tapi aku merasakannya. Ia duduk di sini,
menungguku memaafkan diriku sendiri.”
Lyra terdiam sejenak. “Apakah Bapak sudah memaafkan diri sendiri?”
Pak Yono tersenyum—senyum yang lebih lapang dari sebelumnya.
“Baru hari ini.”
Senja itu terasa berbeda. Tidak terlalu jingga, tidak pula terlalu merah—seperti pelukan yang akhirnya
diberikan, meski terlambat.
Seminggu kemudian, Lyra harus kembali ke kota. Pada senja terakhirnya di desa itu, ia melewati bangku kayu di tepi jalan. Bangku itu kosong.
Warga desa mengatakan Pak Yono meninggal dunia malam sebelumnya—tenang di atas tempat tidurnya, dengan senyum tipis yang tertinggal di wajahnya.
Lyra duduk di bangku kayu itu untuk terakhir kalinya. Ia meninggalkan selembar kertas kecil dengan satu kalimat sederhana:
“Terima kasih telah mengajariku memeluk senja.”
Senja tetap tenggelam, seperti biasa. Namun bagi Lyra, dan mungkin juga bagi Pak Yono, senja tak lagi
menjadi tempat menunggu—melainkan tempat berpamitan dengan damai.
_____
Sumber: Cerpen kiriman Muhammad Fatih Alfarizi melalui email 17 Desember 2025.
