Satu bulan yang lalu, proposal lamaran Rohman akhirnya diapproval oleh Jeng Siti. Bukan proposal yang memakai kop surat atau tanda tangan digital seperti orang kantor, melainkan proposal sederhana yang ditulis oleh jantung yang berdebar seperti drum ronda tengah malam. Hujan baru saja reda. Jalan tanah yang menuju warung masih licin dan penuh lubang. Beberapa genangan air memantulkan cahaya lampu yang redup seperti kaca pecah. Waktu itu mereka berhenti di dekat warung kopi Mbok Jum. Rohman yang baru saja mengantar Jeng Siti berkeliling desa dengan RX-King kesayangannya, tiba-tiba menghentikan motor. Mesin yang tadinya meraung, kini diam seperti kuda besi yang sedang menahan napas.
Motor itu berhenti dengan suara berat, lalu Rohman turun dan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Rohman membungkuk, membuka kotak plastik kecil. Bentuknya mirip terarium yang murah, budget pas-pasan. Di dalamnya ada cincin sederhana. Ketika kotak itu dibuka, mata Jeng Siti berbinar. Entah karena pantulan cahaya lampu jalan atau karena sadar hidupnya baru saja diminta berubah arah.
“Jeng, maukah kamu jadi istriku?” kata Rohman dag dig dug. Kalimat itu meluncur ke udara malam, seperti burung kecil yang belum pernah belajar terbang jauh.
“Kalau mau, ambillah cincin ini. Kalau tidak, ya... jangan diambil.” Beberapa detik yang terasa sepanjang musim kemarau.
Sejurus kemudian tangan Jeng Siti meraih cincin yang tersimpan teduh itu. Hati Rohman langsung bersorak seperti sawah yang akhirnya disiram setelah lama retak-retak. Lalu di depan Jeng Siti, Rohman mengepalkan tangannya kegirangan. Hujan kebahagiaan telah menggelontorkan dirinya.
“Maaf ya, Jeng,” kata Rohman pelan.
“Cincin ini cuma beberapa perak saja. Dari gaji proyek bulan ini.”
Jeng Siti tersenyum.
“Yang mahal bukan cincinnya, Mas. Yang mahal itu niatmu, kesungguhanmu.”
Rohman tersenyum. Kalimat itu menempel di dada Rohman seperti paku kecil yang menahan papan harapan agar tidak jatuh.
“Yang penting halal, kan?” tanya jeng Siti.
Rohman menggangguk.
Sejak hari itu Rohman kembali bekerja di proyek kota. Mengumpulkan beberapa koin lagi yang susah benar diajak kompromi. Rupiah memang makhluk yang keras kepala, dia suka bertahan hidup, tapi tidak suka tinggal lama di dompet orang miskin. Mengumpulkan uang, mengumpulkan keberanian dan mengumpulkan rencana-rencana yang sering lebih besar daripada isi dompetnya. Memang begitulah nasib laki-laki: mimpinya sering lebih mahal daripada gajinya.
***
Suatu malam yang dingin, ketika Rohman masih berada di penginapan tempat proyeknya bekerja, dia bermimpi aneh. Dalam mimpinya melihat beberapa rambutnya satu per satu tercabut dari akarnya. Seperti daun-daun tua yang gugur tanpa izin dari pohonnya. Ketika bangun, badan Rohman lunglai dan lesu. Agaknya mimpi aneh semalam membuatnya tidak enak badan. Pada malam berikutnya Rohman bermimpi hal yang sama lagi. Karena rasa penasaran dan kegamangan yang mendadak mengganggu, Rohman kemudian berniat menemui Mbah Atek, orang pintar di desanya. Waktu itu hari Sabtu, kebetulan proyek libur di hari Minggu. Namun, sebelum memutuskan untuk membuka tabir pada orang pintar, Rohman mampir di angkringan Cak Wicak. Angkringan paling legend di desa.
Angkringan Cak Wicak ini istimewa, karena sudah tiga generasi. Bagi penduduk desa, angkringan itu sudah seperti museum kecil bagi sejarah. Dulu, angkringan ini dirintis oleh ayahnya pada masa perang kemerdekaan. Lalu, dilanjutkan oleh pamannya yang meneruskan dalam beberapa tahun belakangan. Setelah Cak Wicak kembali ke desa pasca berlayar ke beberapa penjuru cakrawala, barulah angkringan ini dilanjutkannya. Konon, proses pengambil alihan angkringan dari pamannya dulu agak runyam, penuh dengan polemik dan intrik. Memang yang namanya Wicak setahuku penuh dengan intrik.
Sampai di angkringan, lampunya temaram, seperti bintang kecil yang tersangkut di atap bambu. Rohman disambut hangat dengan jahe hangat oleh Cak Wicak. Di sampingnya ada beberapa nasi kucing dan sate jeroan yang melambai-lambai seakan bilang ayo raih aku, akan ku jejali kenyang kepada perutmu yang mulai melar.
“Masih sepi gini, Cak?” tanya Rohman.
“Emang seperti ini mas biasanya,” jawab Cak Wicak.
“Loh, dulu kan rame, Cak.”
“Itu dulu Mas, waktu warung Mbok Jum belum buka.”
Rohman mengernyit.
“Lah apa hubungannya,”
Cak Wicak menghela napas panjang.
“Itu intrik, Mas.”
Memang benar kata orang, setahuku yang bernama Wicak sering menggunakan kata-kata intrik. Rohman mengernyitkan dahi, tapi karena lapar Rohman memilih melanjutkan melahap nasi kucing daripada melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya yang tidak penting. Setelah beberapa sendok, Rohman akhirnya membuka percakapan lagi. Di desa kecil yang damai pun ternyata orang masih sempat mencurigai semangkuk nasi sebagai konspirasi ekonomi.
Cak Wicak menjelaskan dengan serius bahwa warung Mbok Jum yang buka pagi membuat orang kenyang sampai malam sehingga tidak mampir ke angkringannya.
Rohman tertawa.
“Gini Cak, hubungan kalau tidak saling tabrakan itu namanya netral. Contohnya angkringan ini sama warungnya Mbok Jum, itu kan waktu buka warungnya beda. Angkringan Cak Wicak bukanya malam, sedangkan warungnya Mbok Jum bukanya pagi.”
“Itu teorinya Mas, tapi enggak gitu.”
Memang kadang ilmu pengetahuan kalah pamor dengan rasa curiga.
“Ah, Mas Rohman, percaya boleh tidak juga boleh, ini juga yang disampaikan Mbah Atek pada saya Mas.”
“Mbah Atek orang pintar itu Cak?”
“Iya Mas.”
“Kamu lo Cak, orang itu harusnya ilmiah apalagi di zaman modern ini, menurut saya ya Cak, angkringan ini sepi soalnya kurang variasi makanannya. Masih model-model yang lama ini. Coba ditambahi variasi makanan-makanan yang baru viral belakang, seperti seblak atau wedang yang lain. Lampunya juga dibuat kerlap-kerlip terang, biar gak horor gini.”
“Wah, Mas Rohman ini malah ngatain angkringan saya horor.”
“Hahaha....”
Pada suatu malam yang ngantuk tersebut, setelah mengisi perut yang perlahan sudah menggemuk, sehabis dari angkringan, Rohman bertolak menuju rumah Mbah Atek. Sejujurnya, Rohman merasa gengsi kalau ke rumah Mbah Atek, kesannya kuno. Namun, karena kegamangan di hatinya menumpuk, mau tak mau Rohman perlu menemuinya. Lucu juga manusia ini: ketika hidup tenang dia percaya sains, ketika hidup goyah dia percaya klenik.
***
Sesampainya di rumah Mbah Atek, Rohman menceritakan mengenai mimpinya, berharap dia menemukan jawaban atas tabir mimpi itu. Mbah Atek geleng-geleng kepala, gawat ini!
“Gawat ini.”
“Kenapa Mbah?” tanya Rohman.
“Kalau mimpimu seperti itu, artinya dalam waktu dekat ada hal yang paling berharga bakal hilang darimu, uang, jabatan, istri yang cantik.”
“Lah saya belum punya istri Mbah.”
“Ya, maksudnya bakal ada yang hilang, bakal ada yang terselip tanpa kamu sadari, anak muda. Ketahuilah rambut itu seperti pusaka yang punya eksklusifitas. Di kitab-kitab perdukunan kuno, kehilangan rambut itu seperti kehilangan kekuatan, vitalitas, baik secara materi, hubungan bahkan finansial.”
Rohman bengong, pikirannya kosong. Kok sampai ekslusif, vitalitas dan finansial. Darimana orang senja ini mengenal istilah aneh-aneh ini. Tapi sebentar kemudian ingatannya tertuju pada Jeng siti. Apa mungkin hal yang berharga itu adalah Jeng Siti? Apa mungkin wanita pujaan hatinya berpaling pada orang lain?
Sehabis malam itu, Rohman menjadi overthinking. Padahal itu gawat karena akan memicu yang namanya Paralysys Analisys. Karena hal itulah, diam-diam Rohman sering mengawasi aktivitas Jeng Siti. Sampai-sampai dia menempatkan mata-mata untuk memantaunya. Oh Yolanda. Semakin sering gamang, makin sering Rohman mengunjungi Mbah Atek setiap malam.
***
Waktu itu kira-kira matahari mau pulang ke rumahnya, Rohman mampir ke angkringan sebentar. Melihat Cak Wicak yang cengar cengir sambil menjajakan dan melayani pembeli, Rohman jadi ingin bertanya.
“Seger bener Cak, ada kabar apa memangnya?”
“Mas Rohman! Saranmu berhasil!”
“Apaan?”
“Saya bikin seblak. Ternyata laku keras!”
Panci-panci di dapur mendidih seperti orang yang sedang berdebat panas tentang nasib. Asap dapur naik ke langit seperti do’a yang lapar perhatian. Rohman hanya mengangguk.
“Iya Mas Rohman, ini angkringan saya baru rame-ramenya, soalnya saya ikut saran Mas untuk nyoba-nyoba bikin seblak. Eh, ternyata orang-orang di sini pada penasaran, pingin nyoba makan seblak, katanya enak. Mas Rohman mau juga? Tak bikinkan kalau mau, Mas.”
“Ah, enggak Cak, ini aku juga cuma mampir sebentar aja, ada urusan mendadak.”
“Ah, Mas Rohman ini, macam orang sibuk aja, serba impulsif, mendadak.”
Tidak berapa lama, suara motor vario merah berhenti tepat di samping angkringan Cak Wicak. Ternyata Jeng Siti yang datang dengan muka sebel bin marah. Rohman mendadak terkaget.
“Mas Rohman!”
Rohman kaget.
“Loh, Jeng kok ada di sini?”
“Seharusnya aku yang tanya sama mas Rohman, dari kemarin saya cariin tidak ketemu. Lagian sudah banyak orang bergosip tentang Mas Rohman. Katanya sekarang main dukun-dukunan.”
“Dukun?”
Fitnah memang seperti asap dapur: kecil, tapi cepat memenuhi seluruh rumah.
“Iya Mas, tetangga sekitar sudah lama memergoki Mas sering ke rumah Mbak Atek. Katanya Mas Rohman baru belajar menernakkan uang tiba-tiba. Makanya sekarang kelihatannya banyak uang. Ternak kambing aja mas, lebih halal, kalau ternak uang dari dukun nanti bawa bencana.”
“Loh, kabar dari mana?”
“Kabar dari Nugroho, dia yang banyak cerita tentang kebiasaanmu yang makin tidak bener ini Mas.”
Ternyata Nugroho adalah orang yang ditugaskan menjadi mata-mata Jeng Siti oleh Rohman. Namun, dalam menjalankan aksinya tersebut, Nugroho ketahuan sering membututi Jeng Siti dengan tidak nyaman. Sehingga aksinya tertangkap. Dalam kesaksiannya, Nugroho bilang kalau dapat uang dari Rohman semenjak Rohman sering mampir di rumah dukun Mbah Atek.
“Makin tidak beres saja sekarang kerjaanmu, Mas. Cincin ini tak kembalikan kalau ternyata Mas beli dari hasil dukun, dari hasil uang yang tidak halal. Aku juga perlu berpikir ulang mengenai rencana-rencana hubungan kita.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi rasanya seperti petir yang menyalakan seluruh kesunyian di kepala Rohman.
“Loh, loh, Jeng, enggak gitu!”
Seketika Jeng Siti merajuk dan meninggalkan Rohman dalam sekali dua kali tebas perkataan-perkataannya. Sementara Rohman hanya terpatung saja. Cincin yang baru dipakaikan sebulan lalu, kini kembali ke tangan Rohman. Lamunan Rohman berhenti ketika Cak Wicak menegur untuk kesekian kalinya.
“Woy, Mas!” suara nyaring cak Wicak seperti TOA membuat Rohman tersadar.
“Iya-iyaaa, Cak. Ngagetin bener aja!”
“Ternyata Mas Rohman ini main dukun-dukunan, ya? Kok kemarin malah melarang saya kalau menerima masukan dukun? Katanya tidak rasional, tidak ilmiah hahaha...”
Rohman hanya menghela napas panjang.
Rohman menceritakan kronologis asal muasal mengapa dari kemarin ke rumah Mbah Atek, karena merasa terganggu dengan mimpi-mimpinya di proyek dulu. Banyak rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam beberapa waktu yang belum bisa Rohman ceritakan pada Jeng Siti. Ternyata Jeng Siti justru sudah marah duluan. Semakin Rohman bercerita, semakin Cak Wicak menjengkelkan dengan tawanya.
“Ah, itu konyol Mas. Hipokrit, nggak rasional namanya, terlalu mengada-ada. Katanya Mas orang rasional, kok percaya pada begituan? Lain kali, kalau mau curhat sama yang di atas Mas, sama Tuhan. Percaya kok sama dukun.”
Rohman dibuat tambah jengkel dengan omongannya Cak Wicak.
“Tak buatin seblak ya, Mas”
“Enggak Cak, enggak nafsu ngapa-ngapain ini.”
“Ya, kalau gitu mau tak kasih ceramah lagi mas?”
“Yaudah, mana Cak seblaknya, daripada kena ceramah terus-terusan dari sampean, jadi jengkel aku lama-lama.”
“Hahaha..., nah gitu mas, seblak siap sebentar lagi dihidangkan, ” jawab Cak Wicak dengan tatapannya yang penuh intrik.
Di langit malam desa itu, bulan menggantung seperti lampu tua yang setia menonton drama manusia dari kejauhan. Rohman duduk diam di bangku bambu angkringan dengan memakan seblak yang rasanya kalah pedas dari omongannya Jeng Siti. Rohman kemudian memikirkan satu hal sederhana yang sering dilupakan manusia: kadang yang membuat hidup berantakan bukan nasib, bukan mimpi buruk, tapi pikiran kita sendiri yang terlalu percaya pada ketakutan.
_____
Sumber: Cerpen kiriman Irsyad Rasyid Muhammad melalui email 15 Maret 2026.
