Cerpen Izin Ibu

Featured Image

“Bagi ibu, impianku hanyalah mainan anak-anak! Ia ingin aku menjadi seperti dirinya!”

“Berhenti saja jadi anakku!” Ibu meraung di kamarnya. “Jadi PNS saja! Itu sudah nyaman sampai tua nanti! Tinggal di kota ini saja, untuk apa merantau! Kamu ini perempuan!”

Ini yang paling aku malas. Setiap aku baru saja memulai percakapan, ibu akan naik tensinya, lalu berakhir dengan tangis dan teriakan. Dari dulu selalu begini. Sejak aku kecil, hingga hari ini usiaku dua puluh enam tahun.

Tangisan ibuku itu, duhhh, lebay sekali. Jika penonton Drama Korea, Drama Turki hingga Drama India menangis berjamaah, masih lebih lebay tangisan ibuku. Juara satu pokoknya. Juara duanya, masih tangis ibu. Juara tiga, tentu saja tangis ibuku yang sedang menonton Drama Turki.

Jika ayah masih ada, aku pasti dapat izin! Memang salah ya, kalau aku mau mengikuti kata hatiku? Masuk ke pekerjaan yang aku sukai? Pergi ke kota seberang, tempat di mana pekerjaan ini pasti menemukan banyak sandarannya?

Menjadi fotografer dan videografer ini bermula dari hobi. Di kota kecil ini, sedikit orang yang butuh jasaku. Itu juga pelit sekali mereka. Minta video kualitas tinggi, tapi bayarannya? Duh minta tobat. Itu juga sering terlambat pembayarannya.

Sudahlah pelit, banyak maunya klien di kota ini. Pernah satu ketika aku memberikan editan video final, ternyata di menit-menit akhir bos mereka meminta ubah sedikit.

“Wajahnya tolong diperjelas mba, di zoom aja. Biar lebih bagus.” Kata anak buah si bos. Ingin nampang pula rupanya. Ini mau bikin iklan apa video narsis? Menggunakan uang perusahaan untuk niat terselubung.

Ingin rasanya aku menjawab. “Mas, kalau bosnya tahu mana yang lebih bagus, ngapain rekrut jasa kami?”

Ah tapi kalau aku jawab begitu, bisa perang pula aku dengan rekan satu timku. Winda, Yudi dan Sisca.

Di kota ini, pertemanannya juga itu ke itu saja. Membuatku sulit berkembang. Aku butuh tantangan lebih besar, agar bisa meraih hasil yang lebih memuaskan. Namun bagi ibu, kamera ini hanyalah mainan anak-anak! Aku harus memakai seragam PNS, berangkat pagi dan pulang sore.

Itu harus aku lakukan berpuluh-puluh tahun ke depan. Persis seperti ibu. Ia ingin aku menjadi seperti dirinya.

Di kamar, kameraku seperti bicara dan berteriak pula padaku. Beberapa jenak, aku mencoba mengartikan teriakan itu.

“Tarik terus, tarik terus!”

Hah? Benarkah benda ini bisa bersuara? Aku dekatkan kameraku ke telinga.

“Awas, awas, kena! Minggir lo! Kena tuh!” Teriak benda ini makin jelas.

Wah jangan-jangan kameraku kerasukan jin fotografer zaman Belanda. Memang sih, di dekat rumahku ada kuburan tentara Belanda yang katanya angker.

Aku buka baterai kamera ini, mana tahu jinnya juga ikutan minggat kalau baterainya dikeluarkan.

“Lagi dong, masa gitu aja nyerah!”

Hah? Tampaknya jin yang masuk sudah level hokage. Baterai sudah dicabut dia masih bisa bersuara.

Saat masih bingung itu, ujung mataku menjurus ke arah jendela. Di luar sana, tampak lapangan kecil di sebelah kuburan Belanda. Ah ternyata ini dia biang keroknya! Bukan bukan kameraku yang berteriak, melainkan suara anak-anak sedang bermain layangan.

“Huahaha, layangan gue jagoan!” Teriak seorang anak bangga. Senyumnya lepas sekali.

“Jagoan gue lah!” Balas yang lain tak terima.

Ada-ada saja bocah-bocah ini. Pantat dan punggungku mendarat di kasur, mencoba membiarkan pikiranku meronta mencari jalan keluarnya.

Entah berapa lama, aku rasa aku sempat tertidur sebentar. Lalu terbangun gara-gara anak-anak itu berkelahi.

“Ah sialan kamu! Layanganku nyangkut nih!”

Anak-anak lain malah mengejeknya,.

“Kamu aja yang bego! Baru aja diterbangin, udah nyangkut gitu di tiang listrik.”

“Jadi bangkai dah tuh layanganmu. Kalau gak kena setrum, ya kehujanan.”

“Udah beli lagi aja, belajar dulu sana main layangan. Biar bisa terbangin yang bener.”

Ekspresi si anak berubah. Mendengar ucapan teman-temannya, sambil melihat nasib layangannya yang naas. Ia berlari pulang, sambil menahan tangisnya.

“Kasihan woi,” sambung seorang anak. “Pasti dimarahin lagi sama ibunya.”

“Ah dia mah jago ngeles kali. Paling bentar lagi udah dibeliin layangan baru.”

Drama anak-anak itu mereda. Aku kembali merebahkan badan. Untuk mengusir rasa kesal, aku coba ambil sebuah novel. Mana tahu aku dapat inspirasi untuk bicara dengan ibu. Ternyata, tetap saja tidak bisa fokus aku membacanya. Ah aku hubungi tiga rekanku saja di grup.

*



“Gimana ya caranya biar aku dapat izin.”

Tak butuh waktu lama, Sisca langsung merespons di grup.

“Ah ini lagi. Udahlah, kan kita udah obrolin bolak-balik. Lagian di kota kita yang kamseupay ini, kita dapet proyek terus kan? Jangan kufur deh.” Celetuk Sisca. Seperti biasa, dia selalu berucap jujur meski pahit.

“Iya, ibu kamu juga udah kasihan itu. Kita juga jadi gak enak.” Sambung Winda. “Kita kan satu tim, karena ada kamu kita juga semangat terus loh kerjanya.”

Respons Yudi agak lama. Sampai aku, Sisca dan Winda sudah membicarakan hal lain, barulah Yudi membalas.

“Hm, kalau aku sih seperti biasa. Kalau kamu emang mau pergi, ya pergi aja. Bukti apa lagi? Sudah jelas di tim kita yang paling jago itung-itungnan bisnisnya kamu. Pasti banyak orang di kota besar sana yang mau ngajak kamu gabung.”

Tersentak juga aku mendengarnya. Memang, dalam hal kamera hingga editing, yang jago adalah Sisca dan Yudi. Winda biasa-biasa aja, malah setahun pertama bisnis kami, ia tak menyentuh kamera sedikit pun. Kemampuannya yang paling bisa diandalkan adalah berjiwa amat ramah pada klien. Ini yang aku dan Sisca tak punya. Apalagi Yudi, editor yang kerjaannya hanya menatap layar terus.

Sementara, kehebatanku adalah dalam hitung-hitungan bisnis. Mulai dari membuat proposal, menentukan harga, hingga bernegosiasi.

Jika ada klien sanggupnya menawarkan sepuluh juta, aku akan minta dua puluh juta. Klien pasti tak mau angka segitu. Di sinilah gerbang pertama negosiasi terjadi.

“Kalau permintaannya begini, dua puluh juta ya mba.” Kataku.

“Wah kami tidak punya budget mba. Hanya ada sepuluh juta.”

Lalu aku akan dengan sengaja membiarkan suasana hening sesaat. Seolah-olah berpikir dan menimbang-nimbang.

“Untuk kualitas yang perusahaan mba mau, kami harus sewa alat dengan range kualitas segini.” Aku perlihatkan daftar harga sewa. “Kecuali kalau memang mau diturunkan kualitasnya, tentu hasil akhirnya tidak memuaskan. Kami bisa saja masuk di angka sepuluh juta.”

Di sinilah aku akan menang. Si klien ini hanyalah bawahan. Dia juga pasti diminta bosnya untuk mencari yang terbaik. Itu artinya, dia punya taruhan reputasinya.

“Kalau gitu, lima belas juta deh mba? Gimana?” Tanyanya lagi.

Hehe dia masuk jebakanku. Itu sudah masuk angka yang aku mau. Sebetulnya, sepuluh juta juga aku dan kawan-kawan sudah senang. Namun, begitu mendengar lima belas juta ini, aku tak langsung mengangguk. Aku naikkan dulu sebelah alisku.

“Enam belas deh, maksimal itu terakhir.” Kata si klien, dia membuka kartunya sendiri tanpa aku minta.

Lalu, aku akan menarik nafas dan mengembuskannya agak keras. “Yaudah deh mba, kalau gitu ada satu item yang mesti kita kurangi ya. Ini sudah semaksimalnya kami.”

Si klien tampak melipat wajahnya. Satu hal lainnya adalah, dia juga punya tenggat waktu yang tak tanggung-tanggung. Seminggu lagi harus selesai. Ini adalah pekerjaan lumayan tak masuk akal.

Kalau Sisca tidak mencubitku, maka aku akan mainkan kartu berikutnya. Cubitan itu seakan memberi isyarat. “Udahlah, enam belas juta udah banyak.”

“Oke mba, segitu pas.” Selak Sisca.

Padahal sedikit lagi bisa itu naik satu atau dua juta lagi.

Negosiasiku, paling juara di antara kami berempat. Namun untuk urusan dengan ibu, jurusku tak ada yang mangkus. Semua melempem dan tersangkut. Telinga ibu tak pernah mengizinkan penjabaranku masuk ke batinnya.

Obrolan di grup itu terhenti.

Tak lama, si anak kecil yang layangannya tersangkut tadi sudah datang lagi dengan layangan baru. Bagaimana bisa? Gila ini!

“Ngomong apa kamu biar dibeliin lagi?”

“Hehe, aku janji bakal bersihin rumah, beresin PR, dan hehe ada deh. Mau tahu aja kalian.” Ia langsung menaikkan layangnya. “Eh, awas kamu ya! Kali ini aku yang bakal bikin layangan kamu putus.”

Mendengar pernyataan itu, terlepas dari benar atau tidak, aku terhentak.

*

Malam itu juga, semua sudut rumah bersih oleh tanganku.

“Tumben nih, mau ngerjain kerjaan perempuan?” Sindir ibu.

Aku tersenyum saja, hanya membalas basa-basi. “Iya nih bu, gak banyak kerjaan hari ini.” Padahal banyak, aku berbohong saja.

Besoknya pula, aku bangun pagi sekali. Oh ya, pekerjaanku di bidang kreatif, membuatku sering baru tidur menjelang pagi. Bangun? Tentu saja siang hari. Namun tidak hari ini, aku bangun pagi sekali.

Pakaian aku cuci, halaman aku pel, tanaman aku siram, semua hal yang bisa merebut hati ibu, aku lakukan. Ibu tampak memijit-mijit kepalanya, aku langsung menarik ibu agar rebahan. Tanganku bersemangat memijit tubuh tua ibu.

Siangnya saat hendak berangkat, aku pun mengenakan pakaian yang anggun dan feminim. Selama ini, aku seringnya tomboy. Dan tentu sering juga dikomentari ibu.

Melotot mata ibu melihatku. Mulutnya membuka seakan tak percaya. Rambutnya yang sudah beruban setengah, sekaan berubah jadi hitam lagi.

“Ini ibu gak salah lihat? Aih aihhh. Kok cantik banget anak ibu?”

Aku ikuti permainan itu. Aku putar badanku, dan rokku mengibas indah. Makin indah dengan motif bunga-bunganya. Makin tampak kagum ibu dibuatnya.

“Aku pergi kerja dulu ya bu.” Pamitku dengan nada lembut. Amat lembut.

Ibu ketus. “Kalau PNS kerjanya disiplin. Ini jam segini masa baru berangkat.” Ibu melihat jam di dinding, pukul setengah satu siang. “Sini, ada yang kurang tuh.” Ibu berjalan mendekat, lalu mengikat rambutku. “Nah begini makin adem lihatnya.”

Sampai di kantor, teman-temanku pun kaget.

“Ih cantik banget kamu.” Canda Winda.

“Wadaw wadaw, lagi mau mancing perhatian siapa nih?” Tembak Sisca.

Yudi seperti biasa, masih fokus dengan laptopnya.

“Yud, lihat tuh ada cewe cakep.” Winda menggoda.

Yudi masih tak merespons.

Sisca lalu melemparnya dengan kotak kecil penyimpanan memori card. Plakkk. “Woi, ngelihatin layar mulu. Nih ada cewe cakep!”

Yudi membuka kaca matanya, mengucek-ngucek. “Eh maaf, mba klien ya?”

Serempak aku, Sisca dan Winda tertawa.

*

Hari itu, aku sore sudah pulang. Teman-temanku pun mengerti, bahwa aku sedang berusaha merebut hati ibu. Sebelum sampai di rumah, aku lihat kanan kiri, apa makanan pinggir jalan yang enak.

Aha, itu dia. Martabak. Makanan paling mainstream dalam urusan bujuk membujuk. Harum sekali, bahkan sejak gerobaknya terlihat dari jauh, bau martabak ini sudah menembus hidungku.

Begitu sampai di rumah, satu senyum tipis, serta satu kalimat tak enak yang aku dapatkan.

“Kalau jadi PNS, bisa beli mobil dan rumah dicicil.” Kata ibu tak terlalu jelas. Soalnya ibu sambil mengunyah martabak. Bukannya malah berterimakasih, ibu masih saja mengungkit-ungkit PNS ini.

Untung aku sudah berkomitmen takkan merespons apa-apa jika obrolan sudah menyerempet ke sana.

“Sebentar, ibu juga punya hadiah untuk kamu.”

Ibu pergi ke kamarnya. Begitu keluar, ada dua buku tebal berwarna-warni.

“Nih, anaknya tetangga lulus. Cuma ngafalin ini.” Wajah ibu berubah menjadi bergairah. “Kamu kan lebih pinter dari dia, pasti bisa juga.”

Aku tak salah lihat.

BUKU PINTAR CPNS. Judul dua buku tebal itu. Tinggal dimasukkan ke dalam sarung bantal, maka bisa dipakai untuk tidur ini.

Hadeuhhhh. Air susu dibalas air tuba. Martabak dibalas buku CPNS. Kalau dihadiahkan novel sih, aku jelas senang. Bahkan sampai sekarang aku masih rajin membaca novel.

Novel terakhir yang aku baca, judulnya Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Aku beli karena sampul dan judulnya menarik. Penulisnya? Aku tak kenal. J.S. Khairen? Siapa pula itu. Pasti tidak terkenal. Lihatlah judulnya, kenapa sarjana kertas banget? Kenapa bukan sarjana gundu atau sarjana kue putu?

Ibu terus menceramahiku. Begitu martabak tinggal dua potong terakhir, aku pamit ke kamar. Buku itu aku tinggalkan. Pura-pura lupa ceritanya.

“Eh, eh. Ini jangan lupa. Pendaftaran CPNS berikutnya dua bulan lagi.”

Aku berjalan ke kamar dengan nyala api yang mulai meredup.

*

Satu menit saja tak sampai, aku sudah menutup buku CPNS itu. Tanganku mengambil sebuah novel bersampul kuning. Sebetulnya sudah berkali-kali aku tamatkan, namun tak pernah bosan membacanya. Novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas tadi.

Aku buka halaman secara acak. Terbukalah satu kutipan pembuka sebuah episode.

“Jadilah anjing yang setia, anjing yang selalu menyalak untuk impianmu! Untuk impian teman-temanmu! Membantu orang menghidupkan mimpinya, akan…” Tak selesai aku membaca kutipannya. Aku letakkan lagi novel itu.

Gak jelas banget ini penulisnya. Masa aku disuruh jadi anjing? Kurang ajar sekali dia. Bagaimana bisa karya begini masuk rak best seller sih?

Aku ambil buku lain. Kali ini sebuah buku puisi. Judulnya Ruang Tunggu, ditulis oleh Seruni Puti. Judul puisinya Orang Dalam.

Sudah kukirim naskah puisi dan doa kepada Tuhan.

Di jam tiga malam. Pengunjungnya ramai.

Entah kapan akan diterbitkan. Untung ada orang dalam.

Ibu di kampung halaman.

Semoga diterima dan diterbitkan, hingga membangun pustaka doa-doa lainnya.

Membaca puisi amat pendek itu, aku seperti mendapat energi besar. Inilah aha momenku! Langsung aku meloncat dari kasur!

Terdengar azan maghrib, dan aku bergegas salat. Begitu selesai, aku bisikkan doa yang panjang. Semoga Sang Mahapasti mendengarnya.

Ayah tolong bujuk Tuhan ya di sana. Ayah kan orang dalam sekarang di surga.

*

Satu minggu, dua minggu, aku terus menambah kebiasaan-kebiasaan baik. Ibu makin kagum dan perlahan mulai mau mengobrol hal-hal ringan denganku. Sesekali aku pura-pura bertanya mana hasil jepretanku yang bagus.

Awalnya ibu tak menggubris. Namun waktu berlalu, dan ibu pun mulai memberi tanggapannya. Awalnya seperti cuek. Lama-lama, ibu mengambil laptopku, meletakkan ke pangkuannya, dan melihat foto-foto itu baik-baik.

“Wah yang ini bagus. Kalau yang ini gak bagus. Terlalu apa ya, ya gitulah pokoknya. Bagusan yang tadi.”

Tiap hari, ada-ada saja yang aku bawakan ke rumah untuk ibu. Tiap uang dari klien turun, maka aku selalu sisihkan bagianku untuk ibu. Kadang aku transfer, kadang aku kasih langsung.

“Wah lumayan juga ya ini.” Kata ibu datar, yang aku yakin, sebetulnya ibu berusaha keras menyembunyikan kegagumannya. Juga rasa senangnya karena menerima uang.

“Iya dooong. Keren kan?” Aku menyilangkan tangan di dada, lalu tersenyum dan menaikturunkan alisku.

Tiga minggu, empat minggu berlalu. Aku dan ibu makin akrab. Apa ini karena setoran untuk ibu lancar terus? Atau mungkin ini berkat ayah sang orang dalam? Meski tak lagi bersama kami, bujukan ayah pada Tuhan tampaknya mulai mangkus. Doa-doaku sepanjang malam sebentar lagi diterbitkan langit! Semoga menghujan!

Minggu ke lima datang. Buku tes CPNS tak pernah aku buka lagi. Ibu juga tak pernah lagi membahas itu.

Minggu ke enam. Malam itu, aku tidur-tiduran di paha ibu. Ibu memainkan anak-anak rambutku dengan lembut. Ini saatnya!

“Bu, aku boleh ngomong sesuatu gak?” Nadaku amat manis.

“Ngomong apa, anak ibu?”

Meski ibu sudah lumayan lunak dibanding sebulan lalu, aku masih saja deg-degan.

“Bu, di kota ini, kan…”

“Gak boleh!” Ibu langsung memotong kalimatku. Wajah gusarnya kembali, sama seperti dulu. Apa yang aku lakukan ternyata sia-sia.

“Jangan coba-coba ngomong mau merantau lagi ke ibu!” Nada ibu makin naik. Ia mendorong kepalaku dari pahanya.

“Bu, aku janji tiap bulan bakal pulang kok.” Aku coba elus pundak ibu. “Di kota proyeknya pasti lebih gede lagi. Tiket kereta pasti murahlah.”

Ibu kembali terdiam. Ekspresi wajahnya sedikit mereda.

“Kalau soal uang, aku udah punya tabungan juga. Seenggaknya bertahan tiga bulan kalau gak ada pemasukan apa-apa.” Langsung aku buka aplikasi mobile banking-ku dan memperlihatkannya pada ibu.

“Ini bukan soal uang!”

Ibu malah pergi ke kamar. Tak ada tangisan kali ini.

Aku terdiam begitu saja, tak hendak menyusul ibu. Kalau menyusul, takutnya malah nanti berdebat lagi. Lalu keluarlah tangisan Drama Korea, Drama Turki, dan Drama India yang digabung.

Aku kembali ke kamar. Merapikan kamera dan peralatanku. Lampu tiang listrik menyiram layang-layang yang tersangkut itu. Aku mengembus nafas besar-besar, juga melepaskan kentutku yang sedari tadi aku tahan.

Dhuuut. Ahhh. Nikmat sekali.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Itu ibu.

“Boleh. Kamu boleh pergi.”

Hah? Apa? Apa aku tak salah dengar? Sogokan apa yang ayah pakai di surga sana? Sampai-sampai hati ibu lunak seperti kapas kena air begini?

“Tapi, kamu tetap daftar dulu ya? Ikut ujiannya, mana tahu lolos? Kan kalau lolos, pengumumannya juga tiga bulan lagi. Jadi kalau kamu gak berhasil di kota, kamu bisa pulang jadi PNS.”

Ternyata masih. Ibu masih berharap meski sedikit.

“Sudah lengkap berkasnya? Pendaftarannya tiga minggu lagi. Jangan mepet-mepet kumpulinnya.”

Aku mengangguk cepat. “Baik ibu, aku siapin.” Mungkin ini solusi yang bisa menyenangkan kedua pihak. Aku dan ibuku.

“Eh bau apa nih?” Ibu menutup hidungnya.

Apa lagi kalau bukan kentutku. Ekspresi wajahku berubah jenaka. Ibu pun ikut tertawa.

*

Besok aku akan berangkat ke kota besar. Aku sudah menyewa kost-kostan di sana. Sisca, Winda dan Yudi tak bisa menahanku. Mereka mungkin akan menyusulku pula kelak.

Aku kepak barang di rumah, siap untuk berangkat. Malam ini, sungguh aku tak bisa tidur. Terima kasih adik kecil pemain layang-layang. Terima kasih buku-buku yang aku baca. Terima kasih ayah.

Semua sudah siap. Sebentar lagi, langkah kaki ini menembus gerbang mimpiku. Namun, malam itu semua berbalik total. Gerbang mimpi itu tiba-tiba tertutup.

Selepas salat isya, aku mendengar suara berdebum keras di kamar ibu. Ibu terjatuh, pingsan.

Tangisku tertahan sejak mendapati ibu pingsan, begitu pula di dalam ambulance dan di lorong rumah sakit. Aku baru benar-benar bisa menangis, saat ibu sudah masuk ruang operasi. Saat teman-temanku datang.

Keberangkatanku tertunda. Mungkin tidak tertunda, namun batal selamanya.

Selesai operasi, dua hari ibu masih tak sadarkan diri. Aku tak bisa tidur. Dua puluh empat jam aku duduk di sisi ibu. Menggenggam tangan ibu, berharap Sang Mahapasti tak memanggilnya menyusul ayah.

Hari ketiga, keempat, kelima. Ibu masih koma.

Ternyata, aku yang harus mengalah. Ternyata, ini kenapa ibu tak pernah mengizinkanku pergi. Tak terbayangkan olehku, jika tak ada siapa-siapa di rumah. Ibu pingsan sendiri, dan boleh jadi ibu sudah… ah! Aku ngeri membayangkannya.

Terasa durhaka sekali aku. Anak perempuan satu-satunya, yang tak mendengarkan permintaan ibu dari dulu. Berkali-kali membuat ibu menangis. Gara-gara aku lebih mementingkan pekerjaanku. Di momen ini, aku baru menyadari, impianku tak ada apa-apanya. Kecil sekali jika dibandingkan dengan keselamatan dan kehadiran ibu.

Aku pasrah. Jika Sang Mahapasti memanggil ibu, maka paripurna sudah. Paripurna aku tak pernah membahagiakan ibu.

Sembari terus menemani ibu, aku menyiapkan berkas CPNS itu. Seminggu lagi pendaftaran dibuka. Sudah terbayang olehku, tubuh ini dibalut pakaian dinas. Ini satu-satunya yang bisa membuat ibuku senang.

Esoknya, teman-temanku datang menjenguk lagi. Sudah aku siapkan satu tas berisi peralatanku.

“Yud, ini kamu ambil aja.”

Sempat terjadi adegan tolak menolak. Namun teman-temanku akhirnya mengerti. Mereka datang menjenguk membawa buah-buahan, pulang membawa kamera dan peralatanku lainnya. Selamat tinggal impianku.

Malam hari kelima itu, ibu siuman. Tangisku lepas, dan langsung memeluk ibu.

Ibu hanya bisa merespons ala kadarnya. Syukurlah, ibu masih bisa bertahan.

“Ibu, lusa aku mau daftar CPNS. Doakan aku ya! Ibu harus lihat aku pakai baju dinas!” Bisikku ke telinga ibu.

*

Hari pendaftaran itu datang. Aku sudah siap. Berkas-berkas itu juga sudah rapi di dalam map. Aku hendak ke rumah sakit dulu sebelum benar-benar mengantarkan semua persyaratan ini.

Aku kaget ternyata ibu sudah bisa berjalan sedikit sedikit.

“Bu! Doakan ya.” Aku peluk ibu. “Semoga aku diterima!” Kini aku benar-benar ikhlas, benar-benar bersemangat. Di lubuk hati terdalam, aku amat yakin bisa diterima.

Saat memeluk itu, aku tak menyadari sesuatu. Tangan ibu bergerak ke tasku, ia mengambil map penuh berkasku itu.

Ibu melepas pelukannya. Lalu menatapku dan map secara bergantian. Lama sekali ibu menatapku sambil tersenyum. Aku bangga sekali, bisa mewujudkan impian ibu. Biarlah aku mengikhlaskan hatiku yang kecil ini, demi hati yang lebih besar.

“Aku pergi ya bu.” Tanganku mengulur, hendak mengambil map itu kembali.

“Gak bagus ini.”

Aku tak mengerti maksud ibu. Map itu, tiba-tiba dilempar pelan oleh ibu ke tong sampah.

“Ya gitulah pokoknya. Bagusan yang tadi.”

*

Dua bulan kemudian.

Rumah kontrakan ini lebih kecil dari rumah kami di kampung. Tapi tak apa, cukup untuk dua orang. Aku dan ibuku.

Setelah sembuh total, ibu malah ingin tinggal bersamaku di kota besar.

“Yah, kemarin itu ibu kira mau meninggal.”

“Bu jangan ngomong gitu dong.” Aku menyela.

“Ibu takut, kalau meninggal, ibu jadi ibu yang mengekang impian anaknya. Arwah ibu seperti gak mengizinkan.”

Aku terdiam seribu bahasa mendengar pengakuan ini. Tidak, tidak seribu. Tapi dua ribu bahasa.

-- Selesai --
Bagikan: